“Gita, bisa kita bicara?” suara diujung telepon terdengar sangat familiar untukku.
Surat gugatan itu sepertinya sudah sampai padanya, karena sepagi ini ia meneleponku.
“Aku masih di tempat gym, ketemu di rumah saja,” jawabku singkat.
Aku menuju ruang ganti dan mengambil tas di loker. Sebenarnya keringat latihan hari ini nggak seberapa dibanding biasanya, tapi mandi pagi ini mungkin akan lebih membuat otakku berpikir jernih menghadapinya. Air dari pancuran shower kamar mandi harusnya membasuh semua airmataku juga, namun entah kenapa airmata itu tak menetes sedikitpun. Ya Tuhan, rasa ini sudah mati atau gimana? Ataukah aku memang sudah nggak perduli dengan pernikahan ini?
Sesampainya di rumah, mobil Arya masih terparkir di garasi. Biasanya jam segini ia sudah pergi ke kantor. Arya duduk di ruang tv sambil mengutak-atik telepon genggamnya. Mungkin banyak meeting yang harus ia batalkan atau ditunda demi masalah rumah tangganya. Aku menghampirinya, duduk di sebelahnya.
“Kenapa kamu mengajukan gugatan ini?” katanya sambil menyerahkan surat gugatan itu padaku.
“Kenapa nggak? Apa masih belum jelas alasannya?” jawabku tenang.
“Tapi kita masih bisa diskusi soal ini, nggak tiba-tiba kamu mengajukan begini,” ujar Arya.
“Diskusi? Berapa tahun pernikahan kita? Dan udah berapa kali kita diskusi? Hasilnya apa?” perkataanku membuatnya sedikit terdiam. Aku tahu ia agak terkejut dengan kalimatku yang seperti bukan diriku. Perempuan yang selama ini selalu menerima, menerima maaf, menerima keadaan, bukan untuk dirinya, tapi untuk rumah tangga yang nyatanya ia perjuangkan sendiri.
“Kita sudah sama-sama nggak muda lagi, apa ini yang kamu mau?” Arya bertanya padaku.
“Kita sudah sama-sama nggak muda lagi, tapi pernah nggak sekali saja kamu tanya perasaan aku selama ini? Pernah nggak kamu perduli sudah berapa banyak airmataku yang keluar, berapa kali aku butuh bersandar hanya untuk menitipkan lelah sementara waktu, berapa sering aku meminta kamu menurunkan egomu hanya untuk aku bisa berkeluh kesah? Kita sudah sama-sama nggak muda lagi, pernikahan kita sudah sejauh ini, kita dapat apa? Selain kesibukan masing-masing, kesendirian yang makin ditemani sepi, kekosongan hati yang makin nggak tahu siapa empunya nya. Kita sudah sama-sama nggak muda lagi, pernikahan kita nggak sebentar, tapi makin nggak ada kata menghargainya, apa karena terlalu lama jadi kamu yakin maaf itu selalu ada? Pernikahan kita makin kosong, apa kamu nggak merasa?”
#15DaysNote #15DN #Day4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar