“Cerai??? Lu serius?? Di usia pernikahan lu yang udah nggak muda lagi, eh berapa tahun?”
“27 tahun,” sahutku cepat.
“Nah itu. Lu yakin? Gue tahu dengan semua cerita pernikahan lu selama ini, tapi gue pikir itu sudah berlalu dan keputusan itu nggak akan lagi keluar dari mulut lu.”
Rania menatapku tajam seolah menunggu penjelasan apa yang akan aku berikan kali ini. Ia tahu keputusan berpisah sudah beberapa kali aku utarakan dan ia menerima. Ya, keputusan itu memang berapa tahun lalu dan saat ini ia seperti kurang menerima dengan keputusanku. Usia pernikahan yang sudah tidak muda lagi, usia yang seharusnya tinggal menikmati masa menua bersama.
“Gue mengerti ini adalah pernikahan lu, lu yang ngerasain, tapi…” Rania mencoba menurunkan nada suaranya.
“Ta, lu akan sendirian di masa tua lu, anak-anak punya kehidupan sendiri,” ucapnya lagi.
Aku hanya terdiam bersandar pada sofa di kafe langganan kami.
“Gue tahu keputusan ini pasti sudah lu pikirin
matang-matang, tapi Ta… Come on…” perkataan Rania masih terlihat tak
menerima.
Aku tahu yang ia khawatirkan hanya diriku, masa tua ku nanti dan keseharianku. Ia tahu benar bagaimana aku sudah merasakan semua jatuh bangun rumah tangga. Aku membuka kacamata hitam yang sedari tadi masih ku pakai, melepaskan pandanganku ke arah luar kafe. “Jadi seandainya lu pisah, lu akan ngapain? Jangan bilang lu mau nikah lagi ya hahahaa….” Rania tertawa.
“Gila lu ya, apa pernah gue cerita selama ini ada laki selain Arya? Kalo ada juga belum tentu juga gue mau nikah lagi,” ujarku tertawa.
“Ya nggak tahu, kali aja ada yang belum lu ceritain ke gue, soalnya kan lu pernah bilang, kalo lu cerai mati lu nggak akan nikah lagi tapi kalo lu cerai hidup lu mau nikah lagi,” sahut Rania masih cengengesan.
“Ya mungkin aja, hidup orang kan nggak ada yang tahu besok akan gimana,” kata-kataku malah membuat Rania penasaran.
“Beneran ada, Ta??”
Aku hanya tertawa melihat mimik muka Rania sambil menimpuknya dengan bantal sofa.
#15DaysNote #15DN #Day3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar