Arya tiba-tiba meraih tanganku, mencoba duduk di sebelahku dengan posisi yang tepat, tersenyum dengan tenang. Sungguh baru kali ini aku melihat ia setenang ini, emosinya seperti terbang entah kemana. Tak seperti biasanya. Tapi ini membuatku semakin mawas diri, khawatir ia mendadak melakukan sesuatu yang di luar nalarku atau nalarnya.
“Ta, kalau perpisahan memang jalan terbaik buat rumah tangga kita, tolong lakukan ini dengan kepala dingin, kamu nggak lagi emosi, aku juga begitu. Dengan semua kisah kita selama 27 tahun ini aku harap kita bisa berpisah dengan cara yang paling baik, karena nggak akan ada pisah secara baik-baik,” penjelasan Arya lumayan panjang.
Dari setiap rencana perpisahan kita yang sudah beberapa kali, harus aku akui ini adalah fase Arya paling terbaik yang pernah aku hadapi. Bahkan aku merasa seperti bukan berhadapan dengan Arya yang selama ini ku kenal. Aneh memang, tapi itu nggak lantas menghalangi niatku untuk berpisah. Buatku ini semua sudah terlalu kosong, terlalu sulit untuk diperbaiki. Kami nggak pernah benar-benar ngobrol dari hati ke hati, apalagi sekadar menanyakan hari ini ngapain saja.
Mungkin kekosongan ini juga timbul dari hati perempuan yang selama 27 tahun menjadi perempuan yang terbiasa untuk menomorduakan diri sendiri. Semua demi suami dan anak. Aku? Cukup sisanya aja. Sama halnya seperti suatu hari kita keluar niat banget mau beli baju tapi yang dibeli justru baju untuk suami dan anak-anak, baju buat kita? Malah nggak jadi. Sayangnya dari situasi ini suami banyak berpikir “selama istri gue senang ya sudah semuanya senang.” Lama kelamaan justru si istri lah yang jadi nggak baik-baik aja, lalu merasa lelah karena capek terus menerus mengalah.
“Intinya kalian cuma kurang ngobrol, itu aja, Ta,” ucap Rania.
“Kurang ngobrol itu bukan “cuma” nggak sih? Karena 80% isinya pernikahan itu kan ngobrol, iya kan?” sahutku.
“Betul. Tapi kalo pasangan kita nggak bisa diajak ngobrol ya mau gimana lagi?” tambah Rania.
Katanya orangtuaku pernikahan isinya ngobrol, diskusi, soal apapun, tentang siapapun, walaupun ujungnya sampai berdebat, adu argument, tiap hari itu saja yang bakal dihadapi, beda persoalan saja. Tapi sampai rambutku tumbuh uban begini rasanya aku belum pernah adu argument sampai berteriak bersebelahan ruangan untuk sesuatu yang sepele.
Terlalu hambar. Arya bukan orang yang suka keributan, tapi bukan juga yang suka membahas hal seru bareng istrinya. Atau aku yang terlalu kaku? Terlalu flat? Ah, rasanya udah nggak penting mikirin itu lagi.
#15DaysNote #15DN #Day5