YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 04 Juni 2015

Lirih...


Ketika seorang ibu menghampirimu di tempat yang tak pernah kau duga akan terjadi...

"Kenapa bawa ibu kesini?!" bisik Genta pada adiknya.
"Ibu memaksa bang, aku harus gimana? Aku nggak tahu kalau ibu sudah duduk di dalam mobil," jawabnya cepat.

Genta setengah berlari menghampiri ibunya, mencium tangan dan memeluk seraya bersimpuh. Sang ibu menyentuh kedua pipi Genta, ditatapnya lekat-lekat mata sang anak.

"Maafkan ibu, kamu jadi seperti ini, harusnya ibu bisa lebih menjaga kamu," ucap wanita setengah baya tersebut.

Airmatanya menetes pelan, dipeluknya Genta begitu erat. Satu bulan sudah ia tak bertemu anak tertuanya. Selama itu pula Galih, adik Genta, merahasiakan keberadaan abangnya. Genta yang meminta agar ibu tak mengetahui semua ini. Ia tak sanggup melihat ibunya terpuruk. Namun mengapa ia sanggup melakukan semua kebodohan ini? 

"Genta yang salah bu, Genta minta maaf, ini kesalahan terbesar dan terbodoh dalam hidup. Harusnya Genta membahagiakan ibu, bukan melihat ibu menangis seperti ini," kata-kata penyesalan keluar dari mulut Genta.

"Ibu tak seharusnya kesini, tak seharusnya melihat Genta seperti ini, Genta malu," tangannya masih merangkul pinggang sang ibu.

Betapa Genta ingin bergelayut dipeluknya sesuka hati, betapa Genta ingin bermanja penuh cerita sepenuh hati, seperti dulu...

"Bu, ibu janji ya, ini terakhir kali ibu kesini, cukup tunggu kepulangan Genta dirumah, masak yang enak buat Genta, Genta kangen masakan ibu," pinta Genta tersenyum.

"Kapan kamu pulang?" tanya ibu pelan.

"Lebaran 2016 Genta sudah dirumah, menikmati lontong opor buatan ibu, rendang paru dan sayur buncis," ia meyakinkan.

"Itu artinya... Masih satu tahun lagi,,, Bahkan puasa tahun ini pun belum dimulai," sahut Ibu pasrah.

"Bu, janji ya..." kali ini ia benar-benar memohon pada sang ibu.

Ia tersenyum sambil mengangguk pelan. Ia sadar untuk saat ini mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan. Membulatkan tekad dan janji pada Genta. Dan itu tak mudah. Menunggu dan bersabar atas kepulangan anaknya dari balik jeruji besi di dalam sel narkoba.



#Day4
#NulisRandom2015

Dekap Rindu...

"Ma, Ayesha ikut boleh?" gadis cilik itu memelas minta ikut.
"Ayesha dirumah saja ya, mama cuma pergi sebentar kok, nanti pulangnya mama bawain kesukaan Ayesha ya?" Utari mencoba membujuk Ayesha untuk tinggal dirumah.
"Asyik! Bener ya ma?"
Utari mengangguk tersenyum.
"Sudah cepat pergi, nanti kesiangan," ujar ibu Utari.
"Iya bu, Utari pamit ya, titip Ayesha," ucapnya pelan.
"Hati-hati, sampaikan salam dari ibu," jawabnya.

Hampir satu jam di perjalanan, Utari menuju parkiran motor. Makanan dalam kantong plastik dan uang receh tak lupa ia siapkan.

"Apa kabar? Kamu sehat?" tanya Haris menggenggam tangan Utari.
"Sehat bang, abang sehat? Ibu titip salam," sahut Utari menatap Hari tersenyum.
"Ayesha sedang apa? Sudah pintar apa sekarang?" tanya Haris mengingat sang permata hati.
"Makin pintar, tadi dia minta ikut, tapi aku larang, aku bujuk akhirnya mau. Ayesha makin mirip kamu," jawab Utari.
"O ya? Kangen banget aku sama Ayesha, hampir dua tahun apa masih kenal aku?" Haria balik bertanya.
"Ya kenal dong, kamu kan papanya, dia sering tanya kamu kemana," Utari tertawa.
"Tapi kamu bilang kan nanti papanya pasti pulang?"
"Iya lah, pulang sambil pake baju pelaut," Utari tertawa.

Pahit. Tertawa dalam kepahitan di hampir dua tahun ini. Suaminya yang tertangkap tangan saat pesta narkoba kala itu harus merasakan akibatnya. Utari harus berbohong pada sang buah hati karena Haris tak ingin putri kecilnya ikut merasakan semua ini. Dan Utari terpaksa menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan Haris yang mendekam dalam penjara, meski masih diusahakan terus untuk pengajuan rehabilitasi namun sepertinya tipis harapan.

"Ayesha, anak papa yang paling cantik, papa kangen mau peluk Ayesha..." Haris memeluk foto Ayesha kecil dalam tidurnya.



#Day3
#NulisRandom2015

Rabu, 03 Juni 2015

Pilu...

"Sudah siap?"

April mengangguk pelan. Sementara May, sang adik begitu antusias tiap kali hari kunjungan tiba. July hanya tersenyum menatap anak tertuanya. Ia mengerti bagaimana perasaannya, dan ia mencoba untuk mengerti bahwa ada kerinduan terselip diantara malu dan amarahnya. Okto sudah menunggu di dalam mobil yang telah ia sewa 2 hari sebelumnya dari kantor. Untunglah atasan Okto masih menaruh iba dan berbaik hati padanya, setelah kejadian yang menimpa ayah mereka.

"Pril, senyumlah... Lakukan untuk Bapak, buang kekesalanmu," ucap Okto sambil mengambil barang pemberian April.
"Iya mas..." jawaban April terdengar pasrah.

Hanya sekitar satu jam perjalanan menuju tempat Bapak berada saat ini. April hanya terdiam. May begitu ceriwis seolah segudang cerita ingin ia tumpahkan pada Bapak. Sesekali Okto menanggapinya sambil bercanda.

"Januar...!"

Sebuah panggilan menuntunnya untuk segera bersiap menuju pintu kunjungan.

"Bapaaaakkk...!" May langsung berlari memeluk Januar dengan eratnya.

Januar menggendong gadis kecilnya sambil mencium kening dan pipinya. April mencium tangan Bapak sambil berusaha tersenyum.

"Sehat pak?" sapa Okto sambil mencium tangan bapaknya.
"Alhamdulillah..."

Januar segera menghampiri July, memeluknya erat, menahan airmatanya agar tak terlihat mengalir.

"Aku kangen kamu..."

July tak bisa membendung airmatanya, ia sangat rindu kehadiran Januar, sang suami tercinta.

"Kapan Bapak pulang?" pertanyaan April membuat semua terdiam.
"Segera setelah putusan sidang," jawabnya cepat.
"Setahun? Tiga tahun? Lima tahun? Sepuluh tahun?"
"April!" Okto menghardiknya.
"Mas, nggak papa, adikmu hanya perlu tahu kapan Bapak pulang, itu saja," Januar mencoba menengahi anak-anaknya.
"April harus tahu pak, April harus tahu kapan Bapak pulang, April harus tahu apa Bapak bisa ngajarin April saat April mau ujian nanti, April harus tahu kapan Bapak bisa ada di rumah lagi supaya April ada teman main catur bareng, April..."

Kali ini kerinduan April tak terkira pada Januar, sang Bapak yang berada di dalam sel entah sampai tahun ke berapa. Menjadi pengedar narkoba tak begitu mudahnya bisa terbebas dari tuntutan. Januar membiarkan April menangis dalam pelukannya, ia biarkan anak gadisnya yang beranjak dewasa mengungkapkan semuanya di hari itu, setelah kunjungan demi kunjungan ia hanya membisu tanpa sapa padanya.



#Day2
#NulisRandom2015

Senin, 01 Juni 2015

What a May...

Mei yang berlalu... Ini yang kurasakan tentangmu...

Bulan penuh gejolak
Bulan penuh warna
Bulan penuh riuh
Bulan penuh riak
Bulan penuh senyum
Bulan penuh rintik
Bulan penuh iba
Bulan penuh duka
Bulan penuh uji
Bulan penuh sesal
Bulan penuh romantisme
Bulan penuh tawa
Bulan penuh bimbang
Bulan penuh...

Sabar dengan kekuatan penuh

Well, what a May :)



#Day1
#NulisRandom2015

Sabtu, 04 April 2015

Paris nyaris...

Berharap beneran sampai ke Paris...

Saya utak atik, putar puter ini hp gimana seharusnya biar kelihatan keren hasilnya. Berhasil posting dan mengundang tawa, loh salah saya apa diketawain? Tiap orang kan berhak punya mimpi masing-masing? Bersahabat dengan www.smartfren.com sangat membantu saya memposting apa yang ada di alam khayal saya hahaha...

Lalu cerita ini pun dimulai ketika saya belanja bulanan bersama suami dan anak-anak. Sambil menunggu suami, tepat di depan mata saya terpampang salah satu dari mimpi saya, Paris... Langsung sibuk dong pastinya... Sibuk selfie plus sibuk khayal, ih ini bukan khayal sih ini beneran. Meskipun nyaris tapi setidaknya kan sempat mampir di Paris :))

Asyik banget ya jalan-jalan sore sama anak di sekitar menara keren ini, meski cuma nyaris haahaha...
Saya yakin kok suatu saat pasti terwujud, mungkin saat anak-anak sudah besar dan bukan jalan sore sama mereka lagi, tapi sama cucu :) iya mungkin saja...


#selfiestory

Rabu, 18 Maret 2015

Blitz...


"Tunggu apalagi?"

Kamu tersenyum. Menyentuh punggung tanganku lembut, menatapku penuh cinta. Ya, cinta yang selama ini aku tunggu, dan aku tahu kamu pun merasakan yang sama, bahkan lebih. Kubiarkan raba mu menggeliat kulitku, hangat. Kamu tak lagi sekedar mengecup kening ku. Bibir ini sibuk berargumen dengan desahnya. 

"Just love me..." ucapmu pelan.
"Like you do..." 


"Cuuuttt....!!!"



*Lovemelikeyoudo
#FF2in1

Sudah Biasa....

SUDAH BIASA...

Mungkin itu kata yang paling tepat untuk Angga rasakan beberapa tahun ini. Diputusin Wina, dicuekin tiba-tiba sama Tita, diduain Sisi sampai ditinggal nikah Risa. Mungkin kalau bisa hati ini digabrukin sama semua mantan-mantannya, hatinya bukan lagi hancur lebur tapi runtuh menjadi serpihan. Tapi Angga berusaha tegar bagai Rossa, dan nggak berbalik sadis macam lagu Afgan. 

Angga menyalakan handycam nya...

"Oke... Untuk semua mantan-mantan saya, Wina yang sudah mutusin saya, teh Wina nggak salah apa- apa kok, akang yang salah..."
"Untuk Tita yang mendadak berpaling seratus delapan puluh derajat tanpa pesan, ah ambo inda' apo-apo, terserah Tita sajo, uda selalu ingin Tita bahagia..."
"Risa yang sekarang telah berbahagia bersama suaminya, yang juga sahabat saya, uh ini menyakitkan tapi, yah sudahlah..."
"Sisi yang selalu suka hidup di dua dunia, dunia saya dan dunia cowok lainnya, hiks....sakiiitt.... Tapi saya terima kasih lah buat kalian semua, berkat kalian saya kuat eh alias sok dikuat-kuatin... Dan berkat kalian saya jadi terlatih..."

"Terlatih apa?" tanya Inu dari balik handycam.
"Patah hatiiiii...!" teriak Angga kesal.


*Terlatihpatahhati
#FF2in1