YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Sabtu, 29 Desember 2012

PostCardFiction : Dear Dua Malaikat


Dear Dua Malaikat,

Hidup yang tak pernah aku mengerti, atau tak butuh untuk dimengerti, yaitu saat raga kita menyatu dalam satu tali pusat. Kalian telah merasa apa yang aku rasakan, melihat apa yang aku lihat, mendengar apapun yang aku dengar. Dalam rahimku, melalui sela kulit ariku. Bahkan kalian menukar airmataku dengan senyuman kebahagiaan, mengganti gumpalan asa ku menjadi lautan harapan penuh cinta. 

Sungguh Tuhan tak pernah menukar tawa satu umat untuk yang lain. Lalu menggantinya dengan kepedihan. Kalian adalah dua malaikat yang bukan hanya Tuhan titipkan begitu saja untukku. Kalian malaikat pembawa berjuta doa yang akan mengiringi jalanku ke surga-Nya. Suatu saat nanti...

Dua Malaikatku, entah apa arti ada ku di dunia ini tanpa kalian, mungkin penuh lara atau malah mati sia-sia. Hidup tak lagi selayaknya hidup. Dan sebenarnya, aku yang bergantung pada kalian, bukan kalian bergantung padaku. Karena aku tanpa kalian hanyalah kosong.

Aku menjadi manusia yang sangat butuh kalian, untuk menjadi kuat, untuk menjadi tegar, untuk menjadi sabar. Aku menjadi manusia yang selalu rindu akan kalian, untuk menjawab semua rinduku yang selalu ada. Aku pernah penuh amarah, penuh kesal dan sesal, namun hanya sebatas emosi manusia.

Dua Malaikatku, terima kasih telah menjadi malaikat-malaikat kecil terindah dalam hidupku yang selalu penuh maaf. Aku sangat mencintai kalian. Terima kasih telah menjadi bagian dari rahimku yang pernah menghangatkan kalian selama 8 dan 9 bulan. Aku tak bisa menjanjikan menjadi yang terbaik untuk kalian, selain selalu ada untuk kalian dengan kedua tanganku untuk merangkul, memeluk, dan menghapus tangis penuh cinta.



Untuk Dua Malaikatku : RAF & SAF


Bunda,

Shanty






Rabu, 12 Desember 2012

Kita...

"Jangan pernah bertanya sudah berapa lama kita bersama, tapi tanyakan sampai kapan kita akan bersama," katamu memeluk erat dari belakang.

"Sampai kapan?" aku balik bertanya.

"Sampai selamanya dong, sampai kita tua bersama, sampai Tuhan mempertemukan kita kembali di surga," jawabmu cepat sambil tersenyum.

"Nice... Bagus juga gombalan kamu," aku tertawa.

Kamu malah mencium keningku, menatap mataku teduh penuh cinta, ini selalu jadi rindu yang tak pernah usai kamu berikan untukku.

"I love you, Key... Kamu adalah segala kebaikan yang aku miliki, semua kelebihan yang aku punya," ucapmu setengah berbisik.

"Dan kamu adalah semua hal yang mampu membuatku terdiam tanpa kata, terlena di setiap kecupan, terbangun penuh pelukan, menghangat di sudut bibirmu," kataku dalam hati.

Tanganmu membelaiku lembut, bibir kita menyatu tak bedanya dengan hati kita, matamu terpejam lalu terbuka persis diujung mataku. Senyuman yang selalu membuatku menunggu untuk tetap hadir di hidupku. Kamu... Selamanya...

Ketika Genggaman Tangan Itu Lepas

Kita tak pernah tahu ketika genggaman tangan itu lepas dari tangan dan hati kita. Dan kita tak pernah tahu ketika sela-sela jemari ini merenggang menyingkir dari genggaman. Bahkan kita tak pernah mengerti mengapa kita melepas genggaman tangan yang telah membawa biduk kita di 10 tahun ini. Aku masih terdiam, ketika kamu tak lagi bisa membawa tangan ini bersama hangatnya genggamanmu. Lalu semua kisah baru yang meluncur menjadi alasan di matamu. 

"Maafkan aku," ucapmu pelan.

Menggenggamku kali ini terasa hanya sebuah torehan, bukan lagi rindu yang kupeluk. Aku menatapmu tapi kupikir sia-sia karena rasa itu tak lagi sama.

"Aku tak butuh alasan kita melepas semua ini, aku hanya ingin kita mengurusnya segera dengan baik," kataku sambil menarik nafas melepaskan tanganmu.

"Maafkan aku mengecewakan semua ini," kamu menatapku.

Sungguh, tatapan itu seperti tak ada artinya lagi, kosong tanpa pemiliknya.

"Rico, sudahlah, percuma semua maafmu kalau ternyata hanya aku yang menghargai kebersamaan ini, ternyata hanya aku yang sibuk membangun cinta didalamnya, dan hanya aku yang dengan tulus menggenggammu dengan erat," aku mencoba menahan buliran airmata ini.

"Seandainya aku tak menggerakkan hatiku terlalu dalam, seandainya aku tak membiarkan rasa ini semakin larut untuknya," sahutmu.

"Semua keadaan ini adalah kesalahan kita, mungkin kamu memang membuka hatimu terlalu luas, mungkin aku yang memang kurang menjaga kita," jawabku getir.

Lalu kamu meraih tanganku, genggaman erat tanpa rasa, hambar... 
Aku melepasnya, pun airmataku... 
Ketika genggaman tangan itu lepas, kita hanya bisa menanggalkan semua impian dan mimpi yang selama ini kita rajut, walau penuh cinta...

Rabu, 31 Oktober 2012

Bakso Gerobak Bang Yusuf

"Kamu tahu nggak apa yang bikin kangen setiap kali aku mudik ke tempat ini?" tanya Amanda padaku tersenyum.
"Apa?" tanyaku balik.
"Bakso," jawab Amanda cepat.
"Bakso? Bakso di Jakarta juga banyak, dari bakso sebesar gundu sampe sebesar bola basket juga ada di Jakarta," kataku meledeknya.
"Eits, jangan salah, bakso bang Yusuf ini dijamin enak dan sehatnya sejagad raya, bikinan rumahan yang bahan-bahannya nggak ngebohong," ujar Amanda membanggakan bakso andalannya.

Lalu kami berputar arah sesuai petunjuk Amanda menuju tempat mangkal bang Yusuf. Setengah jam sudah kami mengitari tempat ini tapi bakso gerobak bang Yusuf tak juga kelihatan menetap disudut jalan. Amanda masih serius mencari-cari dimana kiranya bakso bang Yusuf berada. Tapi yang kami lihat malah sederetan warung lesehan memenuhi jalan ini. Setengah jam kami berputar-putar mengelilingi jejeran warung lesehan namun nihil, gerobak bakso bang Yusuf tak nampak sedikitpun.

"Pak, mau tanya, dulu saya pernah langganan bakso di sekitar sini, bapak tahu nggak kira-kira pindah kemana?" tanya Amanda pada seorang Bapak tukang sapu jalanan.
"Walah mbak, bang Yusuf meninggal sebulan yang lalu karena kecelakaan, kasihan mbak, ditabrak bis wisata yang rem nya blong pas lagi jualan," ujar bapak tua itu menjelaskan.

Amanda terkejut mendengar ceritanya, aku tak kalah kaget mengetahui kejadian yang mengenaskan tersebut.



#15HariNgeblogFF

Selasa, 30 Oktober 2012

Hujan Akhir Oktober

       Perempuan itu berlari kecil di persimpangan jalan, hujan rintik-rintik mulai turun dan lampu lalu lintas belum juga berubah menjadi hijau. Setelah ini ia pasti masuk menuju warnet, menggantungkan mantelnya, menuju tempat favorit-nya di sudut warnet dekat jendela lalu memesan susu putih hangat. Selalu seperti itu, dan aku mulai menghafal hampir setiap gerak-geriknya. Aku tak berusaha sedikitpun menculik perhatiannya demi sebuah perkenalan ataupun pertemanan. Bukan karena aku tak tertarik dengan perempuan unik dan manis sepertinya, tapi mungkin belum ada hujan yang tepat untukku mencari celah pertemuan. Hujan pagi hari, siang hari ataukah sore hari.
         Hari demi hari menjadi Oktober yang kian manis untukku. Pagi itu tiba-tiba hujan turun begitu lebatnya hingga semua orang terlihat berlari menepi untuk berteduh. Tapi kamu masih berdiri di perrsimpangan jalan dengan pasrah. Entah mengapa aku tergerak membawakan payung hijau toska itu untukmu. Sedikit berlari aku menuju persimpangan jalan tempatnya berdiri.

"Pakai payungku saja," kataku tersenyum menyodorkan sebuah payung.
"Terima kasih," jawabmu sambil jalan berbarengan menuju warnet.
"Sebenarnya sudah terlanjur basah juga, tapi terima kasih sudah meminjamkan payungmu," katamu kemudian.
"Setidaknya kamu tak basah kuyup, di dalam warnet dingin nanti kamu bisa masuk angin," aku memberi alasan.

Entah itu alasan atau bentuk perhatian kecil, tapi perempuan itu tersipu malu mendengar ucapanku. 

"Namaku Astri, namamu siapa?" tanya perempuan itu padaku.
"Namaku Bimo," sahutku cepat.

Setelah itu kami berdua seperti selalu menantikan hujan. Menatap setiap rintiknya dari balik jendela warnet saling membalas obrolan kami di sebuah situs. Padahal tatapan kami seringkali bertemu, entah senyum, tawa atau sekedar ledekan. Sampai suatu saat Astri tak kunjung hadir di warnet ini, tak juga di persimpangan jalan menunggu lampu hijau berganti merah. Aku mencoba memesan minuman andalannya, susu putih hangat. Pojokan warnet itu sekarang telah kosong, sesekali terisi namun bukan Astri. Kuteguk susu putih hangat sebagai pelipur rasa rindu ini pada Astri. Lalu aku mencoba berpindah ke pojokan favorit Astri, menatap hujan di akhir Oktober dari jendela warnet. Tanpa sadar, Astri telah menatapku terlebih dahulu dari luar jendela warnet, tersenyum menunduk dan berlalu dipelukan seorang lelaki tua. Aku termangu...



#15HariNgeblogFF

Maukah kamu....

"Kami bertemu di sebuah reuni sekolah, padahal kami dulu tak saling kenal, Ray mengajak berkenalan ketika aku sedang duduk menikmati musik. Saat itu obrolan kami langsung dekat, seolah kami telah mengenal sebelumnya. Lalu Ray mengajakku berdansa," Shaira bercerita sambil tersenyum memandang Ray.
"Maukah kamu, berdansa denganku? Saat itu mungkin kata-kata itu begitu norak didengar untuk jaman sekarang," Ray menambahkan sambil tertawa menggenggam tangan Shaira.
"Dan kami dekat, bersahabat lalu berpacaran. Tak butuh waktu lama bagi kami memupuk rasa cinta ini menjadi semakin besar dan semakin besar, aku ingin ini menjadi selamanya, lalu..." Shaira meneruskan ceritanya dan berhenti sebentar menatap Ray.
"Maukah kamu menikah denganku? Menjadi ibu dari anak-anakku? Maukah kamu menjadi sahabat terbaikku sepanjang masa dengan penuh cinta?" Ray mencoba membantu Shaira meneruskannya.
"Lalu kami menikah tepat setelah hujan berakhir dan disaksikan pelangi, hanya keluarga terdekat dan sahabat, kesederhanaan yang romantis," Ray memeluk Shaira erat.

Aku tertegun memandang cerita pasangan yang sudah tak lagi remaja, bahkan nyaris termakan usia. Mereka masih sibuk bermabuk cinta, masih saling menggali cinta yang tak pernah usai, masih saling berpegangan tangan dalam ketidak sempurnaan. Tak nampak ego yang saling menjulang tinggi, hanya aura cinta yang kuat terlihat.



Train - Marry Me
#FF2in1

Arinda

        Tak ada manusia yang sanggup menolak sebuah kesempurnaan cinta. Apalagi dari wanita sepertimu, Arinda. Kupikir dulu kehadirannya hanyalah sebuah bumbu kesepian hidupku, tapi aku salah. Aku salah besar. Ketulusan Arinda akan cinta ini membuatku sadar dan merasakan apa itu cinta yang sebenarnya. Arinda adalah wanita yang tanpa aku duga mampu menepis semua kesenduanku. Entah bagaimana hidupku tanpa Arinda, karena jiwa yang pernah redup tanpa hiasan bunga ini sekarang menjadi penuh bunga, lebih indah dan lebih berwarna. 
        Arinda, ia akan selalu menjadi yang terbaik untukku, janji untuk menutup semua pintu hati ini mungkin tak ia gubris. Karena Arinda begitu tulus membawa cinta ini, utuh tanpa cela. Aku masih menatapnya dari kejauhan, tersenyum melihatnya bermain air pantai. Senyum Arinda, senyum itu yang tak pernah pudar dari rautmu yang secantik embun pagi. Aku selalu merindukan senyum itu. 
Arinda, terima kasih telah merangkulku dengan rindumu, telah memelukku dengan cintamu.... 





Adera - Lebih Indah
#FF2in1