YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 24 Agustus 2018

SISTER


“Kak, lagi ngapain? Sibuk?”
“Nggak Diara, kakak nggak sibuk. Kamu apa kabar? Lagi sibuk apa sekarang?”
“Baik Kak, biasalah Diara lagi sibuk kuliah sekalian kerja, Kak.”
“Wah, bagus dong kalau bisa sambil kerja? Yuka apa kabar?”
“Yuka baik, dia masih meeting belum pulang. Ayah sama Ibu sehat, Kak? Kemarin Diara telepon Ibu katanya Ayah lagi nggak di rumah.”
“Iya, Ayah dan Ibu sehat.”

Lalu percakapan kami di chat pribadi ini terhenti.

Ah, mungkin Diara kembali sibuk, pikirku. Tapi entah kenapa aku merasa seolah ada yang ingin Diara ceritakan. Aku bukan tak berani menanyakan, tapi tak mampu. Begitu hafalnya aku dengan sifat Diara yang tak mau orang lain tahu tentang hidupnya. Orang lain hanya layak tahu tentang apa yang sudah ia capai selama ini, pendidikannya atau pekerjaannya. Bahkan aku sendiri tak tahu kalau dulu adikku ini telah memiliki calon suami, ironis ya, seorang kakak nggak tahu apa-apa soal adiknya. Aku sampai berpikir, ini salah aku atau memang Diara yang sangat sulit terbuka padaku?
Diara kini telah menikah selama hampir 10 tahun, namun Tuhan belum mempercayakan Diara dan Yuka untuk memiliki keturunan. Apalagi untuk hal ini, sesuatu yang sangat sensitif untuk aku tanyakan pada Diara mengapa ia dan suaminya tidak mau berusaha ke dokter untuk mengupayakan memiliki anak. Bayi tabungkah? Atau apapun jenis usahanya. Buat aku sih nggak masalah, karena pernikahan bukan hanya soal memiliki keturunan atau tidak. Tapi buat Ayah dan Ibu mungkin menjadi persoalan besar karena mereka sangat ingin menimang cucu dari Diara dan Yuka. Walaupun mereka telah memiliki 4 orang cucu dari aku dan Satya, tapi tetap saja akan berbeda dari setiap anak. Apalagi Ayah, sosok yang sangat penuh harapan pada Diara. Pastilah ia tidak hanya berharap tentang pendidikan dan pekerjaan Diara, tapi juga soal anak.



*bersambung*


#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad4
#Day3

Kamis, 23 Agustus 2018

SISTER


          Apa jeleknya sih masuk jurusan Bahasa? Aku nggak pernah menganggap bahwa masuk jurusan Bahasa adalah suatu kemunduran pemikiran ataupun kebodohan seseorang. Apa semua manusia pintar pasti jenius di matematika? Kan nggak begitu juga. Tapi ya apapun itu, Ayah tetaplah Ayah. Meski kesal atau sulit menerima, aku tetap harus menghormatinya. Pun aku tetap menerima keadaan bahwa Diara yang lebih menjadi kebanggaan Ayah dibanding aku. Sejak kecil aku sudah terbiasa menghadapi semuanya dengan sikap dewasa. Entah dewasa atau sok dewasa. Terkadang hanya bisa bercerita pada Ibu yang pada akhirnya hanya merespon dengan senyuman sambil mengelus pipiku. “Jadi kakak harus sabar...” Kalau sudah begitu aku hanya bisa diam sambil menghela nafas. Ibu pernah menanyakan hal iseng padaku. “Diandra, kalau kamu sudah besar nanti, apa kamu mau punya suami seperti Ayah?” Aku mengernyitkan dahiku. “Ya kenapa nggak? Ayah kan sosok laki-laki baik, bertanggung jawab, penyayang, pintar, kayaknya nggak ada yang nggak bisa Ayah perbaiki di rumah ini, iya kan, Bu?” Ibu hanya tersenyum. “Yakin? Bukannya kamu suka mengeluh kalau Ayah pilih kasih?” Aku tertawa. “Ah Ibu... Kalau soal itu biarinlah, semua orangtua pasti lebih memilih anak yang pintar dibanding yang bodoh kan?” Ibu merangkul pundakku. “Ibu lebih memilih anak yang selalu mendoakan orangtuanya.” Aku tersenyum.
       Usiaku dan Diara terpaut 3 tahun, tapi ukuran tubuh kami tak berbeda jauh, walaupun ukuran sepatu Diara memang lebih besar daripada aku. Kulit Diara lebih putih dariku, ia mewarisi kulit Ibu yang putih bersih. Tapi aku mewarisi warna bola mata Ibu yang coklat. Aku ingat saat kami kecil, Diara selalu malas merapihkan kamar dan tempat tidur. Belum lagi buku-buku yang berserakan di sisi tempat tidur karena hobinya yang selalu membaca buku sebelum kami tidur. Hobi kami sebenarnya sama yaitu membaca buku, tapi jenis buku kesukaan kami berbeda. Tugas bersih-bersih kamar ini selalu Ibu berikan padaku. Ibu berkeyakinan bahwa aku lebih bersih dalam hal menyapu. Aku tahu Ibu berusaha untuk memuji agar aku mau melakukannya, padahal tanpa itupun aku pasti mau. Diara sebenarnya adik yang menyenangkan, terkadang kami tertawa bersama karena membahas suatu hal. Di usia kami yang telah dewasa ini, aku sering merindukan tawa yang pernah kami rajut bersama. Untuk hal apapun. Jarak yang berjauhan, waktu yang tak dapat diterka dan kesempatan yang berlomba dengan segala kemungkinan. 


*bersambung*


#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad4
#Day2

Rabu, 22 Agustus 2018

SISTER


              Jiwa kita memang tidak bisa memilih ingin hidup dengan siapa, hidup dimana, ataupun hidup yang bagaimana. Garis hidup dari Tuhan memang sulit ditebak, oleh ramalan sekalipun. Seperti aku yang harus hidup dengan keluarga ini. Tidak, tidak, orangtuaku bukan orangtua jahat atau kejam, mereka bahkan sangat baik dan sayang terhadapku. Tapi memiliki adik perempuan seperti Diara merupakan keunikan tersendiri buat aku. Iya unik. Sejak kecil kedekatan kami sebagai adik kakak sama seperti halnya adik kakak lain, wajar dan normal. Tapi mungkin terlalu biasa aku menganggapnya. Kami bukanlah adik kakak yang sering mengungkapkan segalanya dengan berpelukan, menangis bersama, atau menghabiskan waktu bersama. Buat aku, Diara terlalu tegar untuk dijadikan sebagai adik, terlalu cuek sebagai adik dan terlalu sibuk dengan dunianya. Dia pekerja tangguh, mandiri dan pintar. Meneruskan S2 di luar negeri sambil bekerja, membuat jarak kami semakin melangkah jauh. Sesekali kami bertelepon, bertukar kabar di chat pribadi, tapi tak pernah ada kejujuran berkeluh kesah tentang hal pribadi.
            Mungkin karena keseharianku sejak dulu bersama anak-anak, mengajar di sebuah sekolah swasta, mendengarkan cerita mereka dan merasakan kebahagiaan mereka, maka aku terlihat lebih peka, lebih punya empati. Dalam pergaulan, Diara lebih memilih dibanding aku. Hanya orang-orang tertentu yang bisa dekat dengan Diara sebagai sahabatnya. Itulah mengapa Diara terlihat lebih eksklusif dibanding aku yang tak pernah sedikitpun menyeleksi mau seperti apa model teman-temanku. Ya buat apa juga? Toh nantinya akan ada seleksi alam saat kita sedang terpuruk, mereka akan tetap ada atau tidak? Inilah yang seringkali membuat Ayah kami sedikit pilih kasih. Iya, aku menyebutnya pilih kasih. Ayah seringkali merasa aneh melihat pertemananku yang ajaib dengan beberapa orang, namun tak pernah merasa aneh melihat teman-teman Diara yang eksklusif. Ayah seringkali marah besar saat nilai matematikaku hanya 6 atau malah 5. Ayah seringkali habis-habisan menceramahiku saat aku memutuskan memilih bahasa sebagai mata pelajaran kesukaanku. “Mau jadi apa nanti kalau masuk bahasa? Penjurusan di SMA yang masuk kelas bahasa itu hanya anak buangan…” Jujur deh, kalau bukan Ayah yang bilang kayak gitu mungkin sudah aku hajar itu orang.

*bersambung*

#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad4
#Day1




Kamis, 11 Januari 2018

Pulau Pahawang 30 Desember 2014 - 2 Januari 2015


Yeaahh libur telah usai, isi dompet telah bures hahaha.... Liburan tahun baru untuk tahun ini saya dan keluarga nggak kemana-mana. Ngobrol soal libur tahun baru, saya kangen juga sama Pahawang. Pulau cantik di daerah Lampung. Cerita dikit yaa... :)

Di penghujung tahun 2014 menuju pergantian 2015 beberapa teman kantor saya sepakat menghabiskan malam pergantian tahun di pulau Pahawang. Bersama keluarga kami berangkat malam menuju pelabuhan Merak. Tanggal 30 Desember jam 10 malam dengan meeting point di rest area. Kami baru menyadari kalo tas baju anak-anak nggak kebawa, aduuuhh.... Pasrah lah kita... Konvoi 6 mobil menuju penginapan di Pahawang, kami mengantri selama masuk ke pelabuhan. Sedikit hujan rintik-rintik saat itu, jadi saya dan anak memutuskan untuk tinggal di dalam mobil. Esok paginya kami sudah masuk di kota Lampung, langsung deh kita cari sarapan. Selesai sarapan kami coba sedikit ngubek kota ini kali saja ada toko baju anak yang sudah buka. Alhamdulillah ketemu.

Perjalanan kami lanjutkan menuju tempat penginapan. Semua mobil harus di parkir di dekat perahu-perahu karena kami menyeberang menggunakan perahu. Biaya menyeberang dengan perahu tersebut sekitar 150-200 ribu per perahu. Penginapan kami adalah rumah warga yang disewakan, bukan hotel mewah. Listrik pun baru hidup lagi sekitar jam 3 sore sampai pagi hari. Kami tiba sekitar jam makan siang, jadi Ibu sang empunya rumah sudah menyiapkan makan siang untuk kami. Anak-anak mulai sibuk mau main di pantai. Sedangkan saya?

Saya rindu pantaaaaiiiiiiiii.....!!! Hahahahaa..... Happy banget kalo udah liat pantaiii....






Menjelang malam pertama kami menginap, anak saya yang kecil mendadak nggak enak badan, agak demam. Keadaan penginapan yang seadanya makin bikin dia rewel semalaman. Mungkin karena terbiasa di rumah tidur enak ya, wah harus dibiasain juga nih :) Malam tahun baru 2015 kami malah tidur dari jam 10 malam, di saat bunyi petasan-petasan semakin riuh meriah suaranya. Biarlah toh kita semua nggak ada yang begadang karena besok pagi acara kami sudah tersusun.

Pagi hari tanggal 1 Januari 2015, anak saya yang kecil alhamdulillah sudah mulai lebih enak badannya. Hari ini kami rencana berenang ke pulau besar dan kecil. Tim kami bagi menjadi 2, karena banyak anak kecil yang tidak mau ikut snorkling ke Pawahang Besar, jadi anak-anak kecil kami bawa ke Pahawang Kecil. Seru juga ternyata. Kami tetap pakai perahu menuju Pahawang Kecil. Kalo anak-anak sih jangan ditanya senangnya, bahagia banget lah ketemu air dari kemarin hahahaa....


Selesai bersenang-senang di air pantai, siang setelah makan siang saya sekeluarga memutuskan untuk pulang duluan karena kondisi anak yang semalam sempat demam. Harusnya rencana kami pulang besok tanggal 2 Januari. Untunglah teman-teman pada ngerti, jadi kami terpaksa pamit duluan. Menuju parkiran mobil kami kembali harus menaiki perahu. Damai banget mandangin laut luas gini :)

Niat langsung pulang ke Jakarta, mendadak suami mengajak nginap di hotel di kota Lampung. Sayang juga katanya sudah di Lampung kalo langsung pulang, nggak jalan-jalan dulu. Jadilah malam itu sambil bertemu teman suami, kita jalan-jalan. Anak saya yang kecil kayaknya yang paling bahagia karena malam ini tidurnya adem tenteram di hotel hahahaa... dasar bocah...

Esok paginya setelah sarapan, kami siap-siap kembali menuju ke Jakarta. Melewati penyeberangan Merak, kali ini terasa lama sekali karena banyaknya kapal yang harus mengantri untuk bersandar. Alhamdulillah kami sampai juga di Jakarta dengan selamat. Buat kami perjalanan ini pengalaman berharga, bukan hanya soal jalan-jalan, tapi soal saling menghargai, kerjasama dan mencintai alam.


Love,

SH





Kamis, 04 Januari 2018

Berbagi Ego


Hari ke-2 di 2018, kayaknya lebih punya arti daripada hari kemarin yang tidur seharian akibat pengaruh obat batuk hahhahaha... Mau ngobrolin ego ah, yang kalo kelamaan dibiarin jadi bikin bego hiihihi.... Eh, tapi bener deh ego itu kalo kita nggak bina dengan baik dan benar pasti jadinya ngaco banget. Merasa diri sehat-sehat aja terus jadi males olahraga, sampai badan kita akhirnya ambruk sakit. Nah, itu kalo bukan karena ego kita yang nggak mau ngalah buat olahraga namanya apa? Iya kan? Ngobrolin ego biasanya nggak jauh dari pasangan kita, iya apa iya? Hehe... Biasanya saat emosi memuncak kita baru tahu ego siapakah yang lebih dominan? 

Ada nggak sih yang mau berbagi ego?

Yaela ya mana mungkin, boro-boro berbagi ego, berbagi kesusahan aja kadang kita ogah banget :) Nah itu dia, pernah nggak kita mikir sebesar apa ego kita yang tertanam dalam diri kita ini. Sebesar dunia atau segede gaban? (Ketauan ya anak jaman kapan, nyebutnya gaban hahahhaa....) Bahkan emak kita yang lahirin kita aja kadang nggak tahu tuh kekuatan ego kita seberapa dalam. Kalo saya, aslinya lumayan gede egonya. Tapi ternyata, ego yang saya pikir dulunya adalah ego yang udah lumayan gede eh masih banyak loh yang jauh lebih gede. Aduh hayati mulai gundah... 

Kenyataannya dalam hidup ini kita memang harus berbagi ego, mau atau nggak, setuju atau nggak, menerima atau nggak. Seperti yang saya singgung tadi, contoh paling pas biasanya ya tentang ego kita dan pasangan. Kalo masih masa pacaran sih biasanya belum jelas banget tuh, tapi kalo udah menikah dan tinggal bersama, baru deh ngerasain banget kalo kita benar-benar harus berbagi ego. Kenapa harus berbagi? Ya biar seimbang. Kalo ego kita lebih tinggi, ya berbagilah sama pasangan biar jadi seimbang. Kalo nggak mau berbagi, hasilnya malah akan jadi jomplang alias nggak seimbang. 

Jadi gimana, udah mulai mau berbagi ego?



- 2 Januari 2018 -
(Disadur dari robekan kertas anak)

2018


Setiap tahun baru, hampir seluruh manusia di dunia ini sibuk memupuk sebuah resolusi. Intinya hanya ingin menjadi manusia yang jauh lebih baik. Buat saya, waduh brooo 2017 itu tahun yang melelahkan banget yaa... Kayaknya jadi tahun yang bener-bener diperes sampe kering lagi ini keringet dan amarah hahaha.... Yah, namanya juga hidup, kita nggak akan pernah tahu bakal dapet apa nantinya. Apakah bakal nginjek kotoran atau malah dilempar kotoran, ya kan? Hehehe... Yang paling penting sih gimana kita menyikapinya, gitu kan? Kalo mau disikapi dengan belaga gila ya udah belaga gila deh sekalian. Tapi kalo mau disikapi dengan sabar ya udah ujiannya makin gede pasti. Allah sih gitu kan banyak ngetesnya :) Ngetes tanda sayang... Apapun itu jangan pernah berburuk sangka sama Allah, kecewa boleh, marah wajar, asal jangan gelap mata langsung terjun dari gedung atau gantung diri dibawah pohon toge. 

Kadang ikhlas dan pasrah itu beti alias beda tipis. Cuma beda usahanya aja sih. Tapi justru hal yang saya takutin itu saat saya udah nggak peduli. Pasrah nggak, ikhlas juga nggak. Bodo amatan... Mungkin itu yang bikin saya jadi memutuskan, udah lah stop di 2017. Enough brooo... Jadi 2018 bakal diisi sama resolusi apaan? 

Resolusi 2018 : Sehat, Bahagia, Banyakin Liburan! Yeayy! 

Nggak papa lah malam tahun baru ini sakit flu, tepar di kamar sementara rumah adek ipar lagi rame-ramenya sama seseruan malam tahun baru. Yang penting selanjutnya harus sehat. Pengobatan radangnya bisa tuntas dan sehat lagi, aamiin... 

Jadi untuk tahap awal, nggak usah pikirin kenapa orang bisa jahat sama kita, tungguin aja lah entar juga dikasih karmanya masing-masing. Cuekin aja sama orang-orang yang mau mengusik kebahagiaan kita. Selama kita nggak merebut kebahagiaan mereka. Free Your Self From Negative Person, gitu ya? Eh, tapi yang bilang gini seringkali malah mereka yang bikin hidup orang jadi negatif hahahaha.... Naif banget ya... Apa Gigi banget? Atau Sheila On 7? Errr....

Ya sudahlah.... Semangat selalu di 2018! :)



- 1 Januari 2018 - 
(Disadur dari kertas lembaran punya anak)

Sabtu, 07 Oktober 2017

Pamit...

"Gue nggak pernah benar-benar melepaskan genggaman..."
"Kenapa nggak? Gue kan udah bilang, jangan maksa."

Jes menatapku. 

"Nggak usah jutek gitu, gue kan cuma nggak mau jauh, itu aja."

Aku berusaha melonggarkan raut wajahku yang sinis. Jes masih saja menyimpan baik rindunya, bahkan hatinya untukku.

"Jes, lo terlalu yakin sama semua ini."
"Mungkin iya."
"Jes, nggak baik memaksakan suatu genggaman. Gue pamit..."
"Shal...!"

Jes menahanku, wajahnya seperti anjing kecil memohon biskuit cemilan. Hampir 4 tahun tatapan itu selalu menjadi kelemahanku, bahkan saat ini. 

"Ini cuma soal perpindahan hati, gue kan masih sahabat baik lo."
"Bullshit! Lo tahu itu nggak mungkin, nggak mungkin kita masih bersahabat, kita masih saling cinta, Shal..."

Aku terdiam.

"Kita balik, kita perbaikin semua dari awal."
"Ibu gimana?"
"Shal, yang terpenting itu kita, gue mau perbaikin semua dari awal, lo mau kan?"

Jes, kemana aja sih sikap kamu dari kemarin? Kita udah melewati berapa kali sidang dan baru sekarang kamu punya sikap? Ini terlambat apa nggak sih? Aku tahu kita masih sama-sama saling cinta, nggak pernah berubah dari aku ataupun kamu. 

"Sreek!"

Aku terkejut melihatnya. Jes merobek kertas-kertas dokumen proses perceraian kami. 

"Apa perlu gue bakar?"

Aku menarik napas panjang, beranjak dari bangku dan melangkah pelan. 

"Shally!"

Aku menghentikan langkahku entah karena apa. Mungkin karena aku memang masih mencintainya. Aku hanya mendengar langkahnya pelan dari belakangku dan tubuhku yang hangat. Pelukan yang selalu menenangkanku... Jes memelukku dari belakang... Aku masih tak mampu berbalik, aku tak mampu menahan airmataku. 

"Shal, maafin atas sikap gue ya, kita nggak seharusnya ada di proses ini, gue masih butuh lo untuk ada di samping gue, sampai gue tua, sampai gue mati..."
"Jangan pamit ya, Shal..."



- 7 Oktober 2017 / 23.45 -