YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 27 Februari 2015

Berlabuh...


Bukan soal waktu yang membawamu ke tepian, atau ke tengah samudera sekalipun. Tapi soal hati yang mengajakmu mengembara di hutan belantara. Soal rasa yang menggiringmu pergi berkelana mencari sosok. 

Seperti sore ini...

"Harusnya ini menjadi pemberhentian terakhirku," ucap Lesmana.
"Harusnya?  Kenapa nggak kamu wujudkan?" sahutku cepat.
"Sulit..."
"Apanya?"

Lesmana menatapku sambil tersenyum.

"Kamu..."

Dahi ku sedikit mengkerut bingung.

"Aku cuma mau sama kamu, kalo kamu mau maka aku akan berlabuh," kali ini Lesmana menyentuh punggung tanganku.

Aku tertunduk. Menatapnya hanya akan membuatku semakin gundah. Rasa ini begitu campur aduk. Dan persahabatan ini... Seharusnya tak begini...

Aku membuat tulisan besar dari gerakan kaki ku pada pasir putih ini, semoga saja ombak tak serta merta merenggutnya bersama deburannya.

S T O P

Lesmana terdiam.

"Berlabuhlah, aku adalah masa depan mu..." bisikku meyakinkan Lesmana.

Selanjutnya genggaman itu semakin erat, semoga tak terlepas sia-sia...





#Harike-7
#30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 18 Februari 2015

Untuk Sebuah Keyakinan....


"Untuk berapa lama?"
"Seribu tahun..."
"Gombal!"

Aku tertawa melihat kata-kata pada tulisannya.

"Kamu masih nggak percaya?" ucapku.

Kamu hanya memberi icon senyum.

"Ya, sepertinya aku harus mulai percaya, karena ini sudah hampir seribu tahun," sahutmu sambil tertawa.
"Hahaha.... Bener kan? Sayang aku nggak akan kemana-mana, nggak akan berhenti ditengah jalan, apalagi nggak percaya sama cinta aku," ujarku.
"Itu artinya kamu sudah bisa nerima aku?" tanyaku penuh yakin.
"Kalau aku nggak bisa terima kamu, untuk apa dua puluh lima tahun pernikahan ini?" sahutmu mencium keningku.







-1000 Tahun Lamanya (Tulus)-

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis

Apakah Kita Ada?


"Kenapa?"

Aku hanya terdiam. Terdiam dalam sejuta pertanyaan. 
Ah, kalau saja aku tak begitu sayang padamu, kalau saja aku tak begitu cinta padamu.

"Aku tahu, aku tahu... Aku sayang kok sama kamu, kamu kan tahu itu?" ucapmu melihat tatapanku.
"Apa aku masih bisa bertanya soal itu?" aku balik bertanya.
"Aku tahu dari tatapanmu kamu pasti mau menanyakan itu, iya kan?" jawabmu cepat.
"Buat apa? Apakah kita masih ada? Seingatku sudah nggak sejak..."
"Sejak apa?" nadamu mulai meninggi.
Aku mengalihkan pandanganku kearah pintu teras.
Kamu menoleh cepat dan tersenyum.

"Hai sayang, sebentar ya..." katamu pada pria bule itu sambil tersenyum centil.

"Sudahlah, aku mengerti..." ucapku pelan.

Untuk kesekian kalinya, kamu berbalik arah berjalan menuju apa yang kamu sebut cinta. Bukan, bukan aku. Cuma cinta aku yang melekat, tapi kamu tak rekat. 

Lalu apakah kita ada?
Mungkin bukan kita, tapi aku...






Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis

Senin, 16 Februari 2015

Dear Stiletto Book....

Buka twitter, ketik @Stiletto_Book


"Kamu cantik....Kenalaaann dooonggg...."


Terus lanjut ngulik-ngulik akunnya, web nya, semuanya tentang Stiletto Book :)

Maaf ya, baru mau kenalan aja nih hehe...




#SuratUntukStilettoBook

Jumat, 13 Februari 2015

Untuk sebuah Pencerahan...


Malam itu, malam itu angin berhembus begitu syahdu. Aku masih ingat betapa semua persendian ini teramat pasrah berserah diri. Airmata ini dengan derasnya mengalir. Aku terdiam dalam doa yang khusyuk. Ya, aku ingat, aku ingat dinginnya malam itu dalam ibadahku namun seolah jutaan malaikat berkeliling memberiku sebuah kehangatan.

Malam itu, entah malam ke berapa saat aku ber-i'tikaf bersama. Mungkin benar saat Ramadhan setan-setan terpenjara, hingga Kau biarkan para malaikat surga singgah di relungku.

Untuk sebuah pencerahan... 

Lalu ku tutup auratku...




Ramadhan, Desember 2004



#Harike-6
#30HariMenulisSuratCinta

Kado Yang Tak Terlupakan




23 Januari 2015



Kado yang tak terlupakan buat si mbok : Penangkapan BW oleh Bareskrim...






#SaveKPK
#Harike-5
#30HariMenulisSuratCinta

Kepada Hujan,


Sebaik-baik hujan memang menghadirkan berkah untuk siapapun

Hujan, 
Dengan rintiknya, dengan iringan anginnya, dengan derasnya...
Sebagian malah menitipkan rindu, 
Menitipkan airmata, 
Menitipkan cerita dari satu anak manusia

Ah hujan, 
Kamu tuh penting sekali bagi orang-orang yang sibuk mencari inspirasi
Begitu pentingnya untuk penikmat buku romantis 
Tak tergantikan bagi sebagian yang mengusung nafkah 
Kehangatan tersendiri buat para penikmat kopi

Hujan...Hujan...
Kamu memberi waktu yang tepat untuk kembali tarik selimut
Namun membuat gigit jari karena itu hanya mimpi
Kenyataan memang tak seindah impian
Dingin pun harus dilibas demi konsistensi
Eh, bukan, bukan karena itu, tapi karena takut SP
*gubrak

Sudahlah hujan,
Kamu jangan terlalu dalam bermain peran
Membuat banjir satu daerah
Lalu kami hanya bisa saling memaki

Aneh ya?

Padahal kan bukan salah mu
Padahal kamu datang membawa kesejukan
Padahal ulah kami para manusia
Tapi kamu, tetap jadi kambing hitam
Padahal kamu hujan, bukan kambing




#Harike-4
#30HariMenulisSuratCinta