YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 16 Januari 2015

Dear Emak :)


      Mak, alhamdulillah emak masih sehat sampai saat ini, tadi pagi masih semangat jalan pagi sama ibu-ibu komplek. Mak, inget nggak hari ini tanggal berapa? Inget nggak 36 tahun lalu melahirkan anak perempuan, setelah hampir 4 tahun bergelut dengan para dokter karena hormon yang sempet berantakan. Perjuangan banget ya mak buat dapetin anak macam ini. Padahal anaknya keras kepala, bandel nggak bisa dibilangin begini hehe...

      Mak, apa rasanya melahirkan di tahun '79 saat banjir besar di Jakarta dan melahirkan diungsiin ke kamar lain karena banjir udah masuk kamar inap? Seru n deg-degan ya mak :)) Mak, anaknya sekarang udah setua ini, pernah ngerasa dibahagiain nggak sih? Soalnya nih anaknya cuma ngerasa bisanya nyusahin mulu. Dari jaman sekolah sampe udah nikah n punya anak, eh sekarang nambah "dikerjain" karena nggak ada mbak buat jaga cucunya :))

     Mak, maafin ya mak, kalo selama ini belum bisa ngasih banyak sebanyak harapan para ortu. Alhamdulillah nya sih udah bisa ngasih cucu 2 yang aktif n enerjik banget. Sampe kadang urat emosi gk berenti nonjol saking seringnya cucu-cucu bikin huru hara :)) Semoga dengan kehadiran cucu-cucu hidup emak makin penuh warna.

       Mak, udah mak, jangan keseringan makan empal, makanan berlemak apapun, kan emak kolestrol tinggi. Kalo udah kumat ya ampun, nggak tega banget ngeliatnya. Pengen gantiin aja rasanya kalo emak lagi ngerasa sakit. Tapi ya mak, empal goreng itu emang enak banget ya mak, apalagi paru goreng ya mak hahaha... Mak, jangan juga keseringan minum minuman botol gitu yang manis n seger-seger, banyakin aer putih mak. Emak mah nggak gitu doyan aer putih, kan sehat mak.

       Mak, hari ini anaknya ulang tahun loh mak. Sepagian udah ketemu n ngobrol tapi emak tetep aja diem kaga ngasih ucapan. Iya, maklum banget sih, emak udah tua, kadang inget kadang nggak sama ultah anak-anaknya. Yang penting doanya buat anak-anak nggak pernah putus ya mak, itu aja udah cukup :) Eh, tapi tau-tau lagi di kantor di watsapin sama emak ngucapin ultah. Ih, emak canggih sekarang mah udah bisa watsap hahahaa...

       Mak, makasi ya udah ngelahirin anaknya yang cantik dan bermata coklat ini ke dunia yang penuh cinta dan dusta (halah). Makasi ya mak udah sabar banget sama kelakuan anaknya ini, tapi bener deh anaknya ini banyak belajar banget dari kehidupan emak. Makasi juga udah ngajarin jadi perempuan tegar dan kuat meski nggak berbulu ketek tebal macam samson ato eva arnas. Mak, semoga emak sehat selalu ya mak, ntar kita makan-makannya jangan yang berlemak ama keju-keju ya mak :))

Emak, saya sayang banget sama emak Nani bule... *kecupbasah


#ultahBunSay



Minggu, 15 Juni 2014

Surat Untuk Papa...


Teruntuk Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Hati ini tak akan pernah bisa berpaling apalagi berganti, hati yang utuh hanya untuk lelaki yang sudah semakin lama semakin menua. Tubuhnya yang kini terlihat agak kurus karena diabetes-nya, namun tetap semangat dibalik kayuhan sepedanya setiap minggu. Aku menyebutnya Papa. Lelaki yang sejak aku ada di bumi ini tak pernah lepas dan jauh dariku. Menopang semua keluh kesahku, bahkan hidupnya penuh diberikan untuk semua masalahku. Ah, anak macam apa aku ini... Dari kecil diberi hati tapi tak sedikit aku menyakiti hatinya. Tanpa aku sadari atau tidak. Papa, sampai diumurku ini pun aku tak tahu bagaimana harus membalasnya, yang terpenting hanya melihatmu tersenyum. Karena uang pasti tak mampu menebusnya, karena tenaga sekuat apapun tak bisa menggantinya. 

Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Aku adalah perempuan cilik yang dulu erat kau peluk, lekat dalam gendonganmu, dan nyatanya perempuan cilik ini hanya bisa menyusahkanmu, menghardikmu bahkan mengacuhkanmu. Sungguh tak ada niat sedikitpun untuk semua itu. Papa ingat saat semua itu datang bertubi-tubi? Aku hanya bisa memelukmu, menangis dan menangis. Dan saat itu, pelukan Papa adalah pelukan paling nyaman sedunia yang pernah aku rasa. Entah apa yang aku dapatkan jika Papa tak bersikap bijak, merangkul dan sabar yang berjuta. 

Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Saat tangan Papa erat menggenggam tangan calon suamiku dulu dikala ijab kabul, maka lepaslah tanggung jawab Papa atas hidupku. Ya, kukira akan benar-benar lepas dan Papa biarkan aku dengan kehidupan baruku. Ternyata tidak. Aku salah. Papa bilang, anak burung tak akan benar-benar lepas dari pandangan orangtuanya meski terbang jauh ke negeri antah berantah. Papa benar, orangtua selalu punya feeling tersendiri tentang langkah anak-anaknya. Aku ingat saat sungkeman sama Papa, pesan Papa yang terpenting adalah sabar, sabar dan sabar dalam rumah tangga, jangan tinggi ego. Aku yakin itu juga yang selama ini Papa terapkan bersama Mama selama hampir 40 tahun ini. Wow...40 tahun dan begitu banyak yang aku dapat dari perjalanan orangtuaku. Hal yang utama, mereka tak pernah ribut dan berantem di depan anak-anaknya. Papa nggak pernah secuilpun memukul istrinya apalagi anak perempuannya, semarah apapun Papa. 

Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Terima kasih mungkin adalah ucapan yang hanya bisa aku ucapkan, toh dengan memberikan seluruh dunia ini aku nggak mampu mengganti semua kebaikan Papa. Aku bersyukur punya Papa seperti Papa, dengan segala kelebihan dan kekurangan Papa, Papa tetap Papa terbaik, hebat dan sempurna buat aku. Yang pasti maaf terbesar dari aku, untuk semua sikap aku yang jelek dan nggak bertanggung jawab apalagi dewasa, untuk semua hal yang pernah membuat Papa susah, kesal dan marah.

Papa, semoga doa-doa yang tak pernah putus ini akan selalu menjaga Papa, semoga Papa selalu sehat, biar Papa bisa tertawa bersama cucu-cucu Papa dan melihat mereka mendekap cita-citanya. Semoga... 

Papa, Kaka sayang Papa selalu... Muah!


Dari anak perempuanmu tercinta,


Shanty H.

Jumat, 30 Mei 2014

Manchester is You...

Kenapa saya harus pergi ke Inggris?

Karena saya ingin mewujudkan kisah perjalanan Shabrina yang sebenarnya. Melakukan perjalanan dari Jakarta dan berhenti di bandara Heathrow, melepas pandangan di keramaian serta secuil kenangan obrolan ngopi santai di atas pesawat bersama Razak. Ya, saya ingin mewujudkan perjalanan Shabrina, tokoh perempuan muda yang ada dalam novel saya. Merasakan jatuh cinta pada Manchester, Razak dan Jones. Menata kisah yang ada saat di Birmingham, stasiun Moor street, Tower of London, London Bridge, Double Decker, London Eye, The Dome, Westminster Abbey, Big Ben dan Liverpool.

Karena Manchester, adalah salah satu yang mendorong keinginan saya untuk mewujudkannya. Lalu Birmingham, yang saya yakin pasti begitu indahnya hingga saya mungkin akan sama terbuainya seperti Shabrina saat menatap Jones. Dan Liverpool, dimana Razak masih saja mengingat secuil kenangan di atas pesawat, namun perpisahan terakhir yang sebenarnya di dermaga nan romantis.

Saya mungkin terlalu cinta pada Manchester, hingga saya begitu ingin merasakan rumput Old Trafford, mengikuti tournya, melihat museumnya, duduk di Red Cafe di bangku bertuliskan nomor punggung Ryan Giggs. Aaaakkk.... Mau bangeettt! Ya, mungkin saya memang terlalu cinta pada Manchester, sampai-sampai saya begitu ingin ia memberi kepastian pada Shabrina tentang isi hatinya, tentang rasa bahagianya saat ia bersama Shabrina, tentang sikapnya yang selalu ada untuk Shabrina. Bahwa cintanya tak pernah diragukan oleh Shabrina, bahwa sayangnya tak pernah salah tempat, bahwa jiwanya sepenuhnya milik Shabrina. 

Karena mimpi saya ingin ke Inggris maka novel ini ada. Manchester is you, it's always about you, karena kamu saya bertekad keras ingin ke Britania Raya :) 



#InggrisGratis
@MisterPotato_ID




Manchester is (always) Red...


Kenapa saya harus pergi ke Inggris? 

Karena Sir Alex Ferguson, karena Ryan Giggs, karena Roy Keano, karena King Eric Cantona, karena Wayne Rooney, karena ada Old Trafford, dan tentu saja karena Manchester United! Kecintaan saya terhadap club yang telah 20 kali menjadi juara Champions ini membuat saya berkeinginan penuh ke Inggris. Karena Theatre of Dream, sesuai ucapan sang legenda United, Sir Bobby Charlton, telah mematok hati saya hanya untuknya (lebay). Foto teman-teman yang telah lebih dulu jalan-jalan ataupun sekedar liputan ke Inggris apalagi ke Old Trafford praktis membuat saya ngiler, ngeces dan mengkhayal tinggi kemana-mana. Salah satu doa yang sering saya sebutkan setelah doa penting lainnya. Semoga bisa ke Inggris sebelum saya mati :) 

Kenapa saya harus pergi ke Inggris?

Ya haruslah! Karena saya ingin merasakan euphoria dari setiap kemenangan Manchester United yang pernah ada di ruang ganti. Merasakan kepedihan dan kesedihan yang terjadi pada musim ini saat Manchester United belum bisa mengulang kisah suksesnya seperti musim-musim sebelumnya. Karena saya ingin merasakan rumput Old Trafford, biarlah dibilang norak atau kampungan, toh saya sudah pernah merasakan rumput Gelora Bung Karno waktu foto pre-wedding dulu, sementara teman yang lain ngiri :p Karena saya penasaran sama museumnya. Karena saya ingin merasakan duduk-duduk ngopi-ngopi cantik di Red Cafe, dimana bangku-bangkunya keren banget dengan nomor punggung pemain, baik pemain yang masih aktif ataupun yang sudah pensiun (makin norak biarin) :)) Well, gimanapun adanya musim ini, Manchester is (always) Red... :*

Kenapa saya harus pergi ke Inggris?

Karena Inggris punya stadion bola legendaris selain Old Trafford yang nggak kalah kerennya, mulai dari Stamford Bridge Chelsea, Emirates Stadium Arsenal, White Hart Lane Tottenham Hostpur, Etihad Stadium Manchester City, Anfield Liverpool dan Goodison Park Everton. Wah kalau sudah di Inggris semua stadion wajib dikunjungi meskipun bukan club kesayangan. Karena Inggris nggak melulu soal bola, tapi masih ada banyak hal dan tempat menarik mulai dari Big Ben yaitu menara jam terbesar kedua di dunia, Buckingham Palace yang penuh sejarah, Westminster Abbey, Trafalgar Square, London Eye yang pasti seru banget kalau naik (baru baca sih belum pernah hahaha...), Beatles Museum yang bakal saya borong oleh-olehnya hanya untuk Papa tercinta yang fans berat, serta King's Cross Station.

Jadi, kenapa saya harus pergi ke Inggris?

Masih nanya juga? Ya sudah pasti karena sepak bolanya dan tempat bersejarahnya di Inggris yang selalu ada di dalam list cita-cita traveling saya. Dari alasan yang utama, terutama, penting dan terpenting, yang pasti saya belum pernah naik SQ buat liburan hahahaha....


#InggrisGratis
@MisterPotato_ID







Selasa, 11 Februari 2014

Kepada Rasulullah SAW


Ucapan dalam setiap doaku adalah harapan tanpa batas. 

Ya Rasulullah, 
begitu ingin aku mengenal Engkau, bertemu dan menatap puas. Begitu hebat rasa ini hingga tak kubiarkan celah kecil tanpa menyebut nama dan menganggungkan nama Engkau. Seperti apakah Engkau, ya Rasulullah? Benarkah Engkau tampan? Gagah? Ah, aku tak peduli, yang aku tahu Engkau sangat bersahaja. Sikap dan tutur kata yang tak pernah sedikitpun menghunus kebencian pada kaum manapun. 

Ya Rasulullah, 
jika Engkau saja tak berani mengakui telah bersikap adil, mengapa manusia begitu sombong menyebut dirinya tuan penuh keadilan?
jika Engkau saja tak mampu sesumbar selalu berkata benar, mengapa manusia begitu congkak memberi label dirinya nyonya yang selalu dapat dipercaya?

Ya Rasulullah,
di jaman apakah aku akan bertemu Engkau?
di masa apakah aku akan mengenal Engkau?
di lingkaran waktu apakah Engkau akan menyapaku sebagai umat yang berhati jernih?



Rasulullah bersabda :
"Bershalawatlah kamu untukku, karena bacaan shalawat untukku itu menjadi tebusan dosamu dan menjadi zakat (kesucian) untuk dirimu, maka barang siapa membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali." (HR. Attamimi).



#Day8
#30HariMenulisSuratCinta

Untukmu Yang Tak Pernah Putus Merinduku...


Jika setiap aksara adalah kata yang harus diucapkan tanpa pamrih, mungkin aku begitu. Tak melulu soal cinta namun rindu yang tanpa batas. Itu cukup mewakili sayangku padamu. Kamu tahu, betapa hidup tak lagi bergelora saat ombak tak temukan pantai. Betapa jiwa tak lagi bernyawa saat ranting tak berdaun. 

Jika sebuah nada hanyalah alunan tanpa syair, mungkin aku hanya merana tanpa rindu. Ketukannya tak habis ku gerakkan, hingga tiap kuncinya penuh harap. Buatku, kamu adalah lagu yang tak bosan kudengarkan, nyanyian yang tak pernah usai kudendangkan, lirik yang tak akan habis kusenandungkan, sepanjang masa...


Untukmu yang tak pernah putus merinduku,


SH-RA-050507



#Day7
#30HariMenulisSuratCinta

Senin, 10 Februari 2014

Surat Untuk Pemotor


Kepada para pemotor yang budiman,

Sudikah kiranya kalian mengerti aturan sebagai pengendara bermotor?
Sudikah kiranya kalian mentaati sedikit saja aturan berkendara di jalanan?

Sungguh saya nggak habis pikir dengan pemotor yang seenaknya main serobot dan main terobos. Keuntungan mengendarai motor memang bisa selap-selip, jarak tempuh bisa lebih cepat dibandingkan mobil yang harus kena macet berjam-jam. Tapi bolehlah dilirik dikit itu aturan-aturan di jalan. 

Saya mungkin termasuk baru sebagai pemotor, setiap hari dari rumah ke kantor ditempuh sejauh kurang lebih 16 kilo. Melewati antrian masuk satu jembatan kecil di dekat kali. Saat itulah kesabaran saya selalu diuji. Gimana nggak? Jalur antrian yang seharusnya cuma satu dibuat jadi dua, belum lagi ada beberapa gelintir orang yang otaknya di dengkul dan ketutupan celana sehingga nggak bisa mikir untuk antri dan menerobos di jalur kanan. Motor-motor yang dari arah sana susah lewat, cakep kan? Terus merasa dirinya paling benar, sok ngatur, nggak mau ngalah dan lebih marah dari yang sudah ngantri. Terserah kalau mau nyalip di depan motor orang, tapi tolong jangan nyalip dekat saya, pasti jadi ribut. Bukan saya terlalu ambil pusing, orang-orang kayak begitu layak banget dimarahin, ditegur, dimaki kalau perlu, biar tahu malu! Saya nggak segan-segan mepet motor mereka biar nggak bisa nyalip, toh mereka salah. Terlalu idealis nggak sih saya sebagai pemotor? :) 

Saya terkadang juga suka ngebut, tapi tetap dengan perhitungan, nggak maksa dan nggak asal nyalip bikin macet apalagi bahayain orang. Yang paling ajaib lagi adalah saat lampu merah. Hampir semua motor sudah siap sedia 1 meter di depan lampu merah. Yang dari arah lawan susah lewat, yang mau belok juga susah. Pinter banget kan? Belum lagi saat lampu merah keadaan di perempatan kosong sedikit, nggak pakai ragu-ragu mereka langsung tancap gas. Cerdas kan? Amat sangat! 

Ah, mungkin saya memang agak idealis sebagai pemotor, tapi biarlah dari pada saya celaka atau bikin celaka orang lain. Saya cuma berusaha menjadi warga yang tahu aturan di jalan, itu saja. Terus punya SIM nggak? Ya nggak lah paaakkk...gagal totaaal paak waktu tes tulis, modal nekat aja hahahaha.....


#Day6
#30HariMenulisSuratCinta