YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 17 Januari 2013

Cuti Sakit Hati


"Ken, aku ingin cuti," ucap Risha diujung telepon.

"Maksudnya cuti kuliah? Sebentar lagi kan ujian, Ris," jawab Kendra santai duduk diatas sofa sambil menonton tv.

"Aku ingin cuti, cuti sakit hati dari Boy, aku capek," kata Risha menjelaskan.

"Ooo...itu...terus kamu mau apa? Putusin Boy? Emang sanggup?" Kendra setengah menggodanya.

"Nggak sanggup sih, tapi... Tapi udah terlanjur, Ken..."

"Terlanjur gimana?"

"Terlanjur membunuhnya..."

Kendra langsung diam terkejut.

"Seorang pria ditemukan tewas mengenaskan di kamar kost nya diduga karena dibunuh, mayat korban langsung dievakuasi ke rumah sakit untuk menjalani otopsi sementara keluarga korban yang tinggal di Yogya masih dalam perjalanan menuju Jakarta."

Kendra terperangah melihat berita di tv mengenai Boy.

"Risha! Risha!" Kendra terus memanggil Risha di telepon.

Tak ada jawaban.

"Risha! Kamu kenapa bodoh begitu!"

"Maafin aku, Ken, aku pergi," sahutnya pelan.

Kendra langsung panik, dibukanya kartu pra bayar dalam telepon genggamnya dan membuangnya. 



#13HariNgeblogFF

Orang Ketiga Pertama


 "Ken, mau nambah nggak?" tanya Arya.

"Eh, nggak, udah kenyang," jawab Kendra.

"Ngeliatin apaan sih dari tadi?"

"Itu, cowok di pojok sana tuh, dari tadi sibuk banget."

Lalu Arya ikut terdiam mengamati gerak gerik cowok di pojokan warung pecel lele ini. Si cowok muda tampak mesra dengan seorang gadis muda sambil bercanda. Tak lama mereka keluar dan si cowok kembali lagi duduk di pojokan tanpa si gadis muda. Namun selang berapa menit seorang gadis muda lain datang menghampiri dan mereka kembali terlihat mesra. Kendra dan Arya saling bertatapan sambil tersenyum.

"Heh! Bagus ya! Baru aja nganter aku pulang sekarang udah sama cewek lain?!"

Gadis muda yang lebih dulu pergi ternyata datang kembali dan menangkap basah kuyup si cowok muda dengan gadis muda tersebut. Seketika warung pecel lele jadi ramai. Kendra dan Arya tertawa melihatnya.

"Ya ampun kasian banget neng bisa sampai dikadalin begitu," ucap Arya.
"Jangan salah, itu cewek justru orang ketiga pertama, Ya, cewek aslinya udah jauh lebih dulu dianter pulang, dari tadi kan makanya aku sibuk merhatiin," Kendra tertawa geli.



#13HariNgeblogFF

Selasa, 15 Januari 2013

Pukul Dua Dini Hari


"Ya Tuhaaaaaann......!!! Aku ngantuk sekali, benar-benar butuh tidur..."

Hampir setiap malam, pukul dua dini hari suara bayi mungil itu terdengar menangis kencang. Seharusnya sejak pindah kost ditempat ini aku sudah mulai terbiasa, tapi hari ini aku letih luar biasa, butuh tidur teramat sangat. Berharap tidur dari jam 8 malam tadi dan bangun jam 5 subuh. Tapi apalah arti tangisan bayi, tetap yang dewasa harus memahami. 

Pagi harinya aku terbangun lemas, menatap jam dinding sambil memeluk guling, memikirkan tidur yang tak begitu maksimal.

"Kendraaa...banguuunn...kuliaah..." teriak Arya dari luar pintu kost.

Tak berapa lama Kendra keluar dari kamarnya dan telah siap untuk ke kampus.

"Kenapa sih, Ken, ngantuk mulu tiap hari," tanya Arya teman kost-nya.

"Nggak bisa tidur, tiap malam bayinya orang sebelah itu nangis terus," jawab Kendra.

"Tiap malam? Kok aku nggak denger ya?"

"Iya tiap jam dua dini hari pasti nangis."

Mereka lalu berpapasan dengan ibu kost dan mbok Yem.

"Belum berangkat?"

"Ini mau berangkat, Bu," sahut Arya tersenyum.

"Ibu mau kemana?" tanya Kendra.

"Ibu mau beres-beres kamar sebelah kamu itu loh, sudah lama nggak diisi, nah nanti ada orang baru yang masuk," Ibu berlalu meninggalkan Kendra dan Arya.

"Whaat?! Kosong?! Kamar itu kosong?!"

Dada Kendra sesak, jantungnya berdegup kencang. Jadi suara bayi siapa yang ia dengar setiap malam???



#13HariNgeblogFF

Kenalan Yuk!


"Maaf, ini saputangannya jatuh."

"Oh, iya, terima kasih."

Aku tersenyum segera berlalu, pria muda itu masih menatapku hingga membuatku untuk menoleh sekali lagi saja. Pria muda itu melambaikan tangannya sambil tersenyum nakal. Aku masih berusaha berkeliling mengisi waktu ditempat ini, janji temu dengan Tante Mariska masih setengah jam lagi. Aku memutuskan untuk duduk di sebuah coffee shop sambil membaca novelku. Tak lama seorang waiter memberikan sebuah camilan sepotong cheesecake dengan sebuah kertas kecil.

"Kenalan yuk!"

Aku mengernyitkan keningku sambil melihat sekelilingku.

"Dari siapa?"

"Pria muda di pojok sana."

Aku tersenyum geleng kepala, ia pria muda yang tadi. Aku memberi kode untuk duduk bersamaku.

"Terima kasih untuk cheesecake-nya." 

Anak muda yang tampan, kenapa ia mau berkenalan denganku? Usianya jelas jauh berbeda denganku.

"Maaf kalau caraku agak norak untuk berkenalan," ucapnya malu-malu.

"Tak apa."

"Sebenarnya aku hanya ingin memberikan ini, titipan dari Mamaku. Mendadak ia harus ke Belanda dan tak sempat memberi kabar, hanya foto melalui bbm ini yang diberikan untuk bertemu dengan anda," ujarnya kemudian.

"Ya Tuhan... Kamu anaknya tante Mariska?" aku tertawa geli.

Pria muda itu bernama Kendra, tinggal di Belanda dan saat ini sedang berlibur di Jakarta. Tante Mariska adalah adik Mamaku paling kecil, dari 12 bersaudara. Usianya hanya terpaut 4 tahun dari aku.


#13HariNgeblogFF


Sabtu, 29 Desember 2012

PostCardFiction : Dear Dua Malaikat


Dear Dua Malaikat,

Hidup yang tak pernah aku mengerti, atau tak butuh untuk dimengerti, yaitu saat raga kita menyatu dalam satu tali pusat. Kalian telah merasa apa yang aku rasakan, melihat apa yang aku lihat, mendengar apapun yang aku dengar. Dalam rahimku, melalui sela kulit ariku. Bahkan kalian menukar airmataku dengan senyuman kebahagiaan, mengganti gumpalan asa ku menjadi lautan harapan penuh cinta. 

Sungguh Tuhan tak pernah menukar tawa satu umat untuk yang lain. Lalu menggantinya dengan kepedihan. Kalian adalah dua malaikat yang bukan hanya Tuhan titipkan begitu saja untukku. Kalian malaikat pembawa berjuta doa yang akan mengiringi jalanku ke surga-Nya. Suatu saat nanti...

Dua Malaikatku, entah apa arti ada ku di dunia ini tanpa kalian, mungkin penuh lara atau malah mati sia-sia. Hidup tak lagi selayaknya hidup. Dan sebenarnya, aku yang bergantung pada kalian, bukan kalian bergantung padaku. Karena aku tanpa kalian hanyalah kosong.

Aku menjadi manusia yang sangat butuh kalian, untuk menjadi kuat, untuk menjadi tegar, untuk menjadi sabar. Aku menjadi manusia yang selalu rindu akan kalian, untuk menjawab semua rinduku yang selalu ada. Aku pernah penuh amarah, penuh kesal dan sesal, namun hanya sebatas emosi manusia.

Dua Malaikatku, terima kasih telah menjadi malaikat-malaikat kecil terindah dalam hidupku yang selalu penuh maaf. Aku sangat mencintai kalian. Terima kasih telah menjadi bagian dari rahimku yang pernah menghangatkan kalian selama 8 dan 9 bulan. Aku tak bisa menjanjikan menjadi yang terbaik untuk kalian, selain selalu ada untuk kalian dengan kedua tanganku untuk merangkul, memeluk, dan menghapus tangis penuh cinta.



Untuk Dua Malaikatku : RAF & SAF


Bunda,

Shanty






Rabu, 12 Desember 2012

Kita...

"Jangan pernah bertanya sudah berapa lama kita bersama, tapi tanyakan sampai kapan kita akan bersama," katamu memeluk erat dari belakang.

"Sampai kapan?" aku balik bertanya.

"Sampai selamanya dong, sampai kita tua bersama, sampai Tuhan mempertemukan kita kembali di surga," jawabmu cepat sambil tersenyum.

"Nice... Bagus juga gombalan kamu," aku tertawa.

Kamu malah mencium keningku, menatap mataku teduh penuh cinta, ini selalu jadi rindu yang tak pernah usai kamu berikan untukku.

"I love you, Key... Kamu adalah segala kebaikan yang aku miliki, semua kelebihan yang aku punya," ucapmu setengah berbisik.

"Dan kamu adalah semua hal yang mampu membuatku terdiam tanpa kata, terlena di setiap kecupan, terbangun penuh pelukan, menghangat di sudut bibirmu," kataku dalam hati.

Tanganmu membelaiku lembut, bibir kita menyatu tak bedanya dengan hati kita, matamu terpejam lalu terbuka persis diujung mataku. Senyuman yang selalu membuatku menunggu untuk tetap hadir di hidupku. Kamu... Selamanya...

Ketika Genggaman Tangan Itu Lepas

Kita tak pernah tahu ketika genggaman tangan itu lepas dari tangan dan hati kita. Dan kita tak pernah tahu ketika sela-sela jemari ini merenggang menyingkir dari genggaman. Bahkan kita tak pernah mengerti mengapa kita melepas genggaman tangan yang telah membawa biduk kita di 10 tahun ini. Aku masih terdiam, ketika kamu tak lagi bisa membawa tangan ini bersama hangatnya genggamanmu. Lalu semua kisah baru yang meluncur menjadi alasan di matamu. 

"Maafkan aku," ucapmu pelan.

Menggenggamku kali ini terasa hanya sebuah torehan, bukan lagi rindu yang kupeluk. Aku menatapmu tapi kupikir sia-sia karena rasa itu tak lagi sama.

"Aku tak butuh alasan kita melepas semua ini, aku hanya ingin kita mengurusnya segera dengan baik," kataku sambil menarik nafas melepaskan tanganmu.

"Maafkan aku mengecewakan semua ini," kamu menatapku.

Sungguh, tatapan itu seperti tak ada artinya lagi, kosong tanpa pemiliknya.

"Rico, sudahlah, percuma semua maafmu kalau ternyata hanya aku yang menghargai kebersamaan ini, ternyata hanya aku yang sibuk membangun cinta didalamnya, dan hanya aku yang dengan tulus menggenggammu dengan erat," aku mencoba menahan buliran airmata ini.

"Seandainya aku tak menggerakkan hatiku terlalu dalam, seandainya aku tak membiarkan rasa ini semakin larut untuknya," sahutmu.

"Semua keadaan ini adalah kesalahan kita, mungkin kamu memang membuka hatimu terlalu luas, mungkin aku yang memang kurang menjaga kita," jawabku getir.

Lalu kamu meraih tanganku, genggaman erat tanpa rasa, hambar... 
Aku melepasnya, pun airmataku... 
Ketika genggaman tangan itu lepas, kita hanya bisa menanggalkan semua impian dan mimpi yang selama ini kita rajut, walau penuh cinta...