YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Sabtu, 15 September 2012

Janji Sekali Waktu

                      Radin terdiam di dalam mobilnya, ia tak mampu memahami dirinya inikah pilihan yang harus ia jalani? Telepon genggamnya telah berkali-kali berbunyi, dering sms serta bbm tak henti bersuara. Tapi semakin banyak semua itu datang padanya semakin tinggi tingkat kegelisahan hatinya. Raisa, mengapa kita harus mengalami ini? Aku tak ragu akan kesetiaanmu tapi mungkin aku hanya belum terbiasa dengan semua ini.

"Radin! Radin! Ayo cepat! Raisa sedang menunggumu, dari tadi memanggil-manggil namamu!" Kinan mengetok-ngetok jendela mobilnya dengan panik. 

Radin berusaha mengikuti jejak langkahnya, mengikuti Kinan yang mengarahkannya ke ruang operasi. Raisa tersenyum melihatnya, mencoba meraih tangan Radin. Digenggamnya segera tangan Raisa. 

"Radin, jika detik ini adalah waktu terpendek untuk aku memilikimu dan bayi ini, tolong cintai bayi ini, sekali ini saja, cuma itu permintaan terakhirku, karena ia memang bayi kita," ucap Raisa lirih dengan senyum. 
"Raisa, waktumu tak akan pernah habis untukku dan... Dan bayi kita, waktumu akan selalu ada untuk kita," sahut Radin pelan. 

Ya Tuhan, Kau telah luluhkan hatiku,ada atau tak ada ruang dan waktu demi sebuah kesempatan yang lebih baik, aku hanya mohon untuk diijinkan mencintai Raisa dan bayi kami sepenuh hati...



#FF2in1

Jumat, 14 September 2012

Manchester is You


It's not only about place, history, football and love but trully about us, you and me... Let's grab it, my 1st book! Manchester is You... :)

Sabtu, 08 September 2012

Jadikan Aku Pendendam

"La, kamu yakin?" ucapku lirih.
"Iya, aku yakin," sahut Lala.

Jawaban Lala sepertinya terdengar ragu di telingaku. Tapi aku nggak mungkin menepis keputusannya.

"Salahku apa, La?" tanyaku lagi.
"Salahmu adalah kamu terlalu mencintai aku," jawab Lala cepat.
"Kalau mencintaimu jadi suatu kesalahan terbesar dalam hidupku, aku akan tetap melakukannya berkali-kali, La," ujarku.

Kamu terdiam.

"Pergilah, aku muak," Lala menarik lenganku.
"Teganya kamu menjadikan aku seorang pendendam seperti ini, La. Padahal aku tetap menerima apapun bentuk dirimu dan kekhilafanmu," aku membela diri.

Lala membanting pintu rumahnya. Sayup-sayup suara tangismu masih terdengar olehku.

"Kamu masih mencintaiku,La," ucapku pelan.



#FF2in1 - "Marcell-Mendendam"

Tentang Satu Nadi...

Aku menggenggam dirimu, merekatkan hati ini lebih dari paham yang telah kamu berikan padaku. Perwakilan suara hati yang selalu indah kamu sentuh. Nadi, darah dan hati, berkecamuk menjadi satu yang tak mungkin kita hilangkan. Menjadi sisi yang tak akan tergantikan. Kamu, aku, luka, pertalian cinta.

Mengapa? 

Hanyalah pertanyaan yang selamanya tak akan habisnya terjawab...

Kamu memelukku erat....

Mengapa?

Karena darah kita telah menyatu...

Tentang kita...



#FF2in1 - "Noah-Separuh Aku"

Kamis, 06 September 2012

Keliru


Bara terus mengikutinya dari belakang, sesekali dihentikannya langkahnya agar perempuan itu tak mengetahuinya.

"Aku pasti tak salah, ia Aruna, tapi sedang apa ia di tempat seperti ini?" Bara bertanya-tanya.

Perempuan itu semakin mempercepat langkahnya, seolah tahu bila dirinya sedang diikuti. Bara begitu seriusnya memperhatikan gerak langkah perempuan itu. Lalu ia tiba di sebuah rumah kecil yang lumayan banyak penghuninya.
Tapi... Bara masih tak percaya jika Aruna tinggal di tempat ini. 

"Loh, kemana dia?" Bara celingak-celinguk.
"Heh, cari siapa mas?!" tanya seorang perempuan.
"Cari saya?" suara perempuan itu berubah seperti suara lelaki.

Bara terkejut pucat pasi.

"Maaf, maaf... Maaf, saya kira kamu mantan saya," Bara langsung lari sekencang mungkin.

Perempuan itu melepas wig nya sambil bersenandung lagu mantan kekasih, lagu andalannya mengamen.


#FF2in1

Raras dan Cerita Kita


"Ras, ini bukumu, kamu pasti lupa," aku memberikan buku catatanmu yang tersampul rapi.

Kamu hanya tersenyum. Membuka payung hijau mudamu lalu kita jalan berdampingan. Selalu seperti itu. Ceritamu selalu juga tentang mimpimu yang sepertinya sulit kugapai. Belajar di luar negeri. Ah, Ras, seandainya aku setajir kamu. Tapi anehnya kita sulit berpisah, padahal nasib kita saja berbeda jauh. Kamu gadis cantik yang sejak awal sekolah aku cinta Ras, tetap selalu sederhana. Kamu dan cinta kita.

Pagi itu menjadi pagi yang pahit untuk aku dan kamu. Lulus dari sekolah sepertinya tak membuatku ingin berada di puncak bahagia. Tidak jika tanpamu. Tapi cita-cita adalah cita-cita. Dan cinta terbesarku adalah membiarkanmu meraih impianmu Ras...

Sore itu aku tetapkan menjadi hari yang tepat untuk segalanya. Mengakhiri pertemuan kita dan perjalanan kita. Tapi tidak hati kita, Ras.

"Pendengar sekalian sekarang saatnya kita simak lagu dari Sheila On 7, waktu yang tepat untk berpisah," suara sang penyiar radio. 

"Gila, lagu ini sepuluh tahun lalu, sepuluh tahun lalu aku melepasmu Ras, sekarang, kamu sudah kembali bersamaku," aku memeluk Raras erat di mobil, dalam perjalanan setelah menjemputnya di bandara.


#FF2in1

Selasa, 14 Agustus 2012

Ragil yang Bebas


Aku hanya bisa menangis. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Ketika airmata tak berlaku lagi bagimu sebagai rasa iba atau kasihan padaku. Bisa karena terbiasa, mungkin itu yang saat ini erat melekat pada diriku. Ya, sepertinya aku telah terbiasa menerima semua sikapmu, telah terbiasa menghadapi semua perlakuanmu. Otakku menjerit, hatiku menangis tapi tubuh ini hanya bisa pasrah. Seakan aku ikhlas akan semua tindakan burukmu. 

Ayah, tidakkah kau letih dengan semua ini?

Hari ini aku kembali menerima hujaman tanpa syarat. Entah apa salah dan dosa yang telah aku perbuat. Seolah itu tak ada beda di matamu. Padahal aku merasa sikapku sudah begitu manisnya, semua suruhan dan keinginanmu aku lakukan. Hanya karena kau adalah Ayahku. Hormatku tak akan berkurang, apalagi sayangku, walau sehebat apapun jeratan pilu yang telah kau gores pada diriku. 

Ayah, tidakkah kau juga sayang padaku?

"Ragil! Bangun, Ragil! Ragil!" seseorang berteriak memanggil namaku sambil menopang tubuh mungilku.

Aku terkapar tak berdaya, luka lebam atau darah yang mengucur tak kurasakan. Aku hanya sempat mendengar beberapa orang bersuara lantang. Tuhan, apakah itu suara para malaikatmu? Apakah Engkau telah membawaku ke surgamu? Hingga aku tak akan menikmati seluruh kebatilan itu lagi. Lalu aku bertemu Ibu, menyapa dalam mimpi putihku ini. Ibu memelukku penuh kasih sayang, pelukan yang selama ini aku rindukan. Pelukan yang pernah Ayah janjikan padaku di depan pusara Ibuku, namun sirna dengan hadirnya iblis-iblis itu dalam diri Ayahku. Ibu, kau begitu hangat, secuil luka pun tak lagi kurasakan. 

Ayah, mengapa kau terus menyiksaku?

"Alhamdulillah, Ragil, kamu sudah sadar. Kamu sudah koma selama satu minggu," mas Eka tersenyum di sebelah tempat tidurku.

Aku masih dirawat di rumah sakit ini, mas Eka dan para tetangga telah menyelamatkan aku dari liarnya sikap Ayahku. Mengeluarkan aku dari sendi-sendi penyiksaan dan terpaan penuh luka. Aku yang teraniaya oleh keluargaku sendiri, sekarang telah bebas dari sakit yang berkepanjangan. Mas Eka dan para tetangga yang sudah tidak sanggup menatap perlakuan biadab Ayahku, sekarang memberikan label merdeka untuk hidupku tepat di hari kemerdekaan negeri ini. Hari dimana bocah seumurku meluapkan kegembiraannya dengan berbagai lomba dalam perayaan kemerdekaan.

"Ragil, setelah ini kamu akan tinggal bersamaku, kamu harus sembuh biar kamu bisa sekolah lagi seperti dulu," ucap mas Eka padaku.
"Bagaimana dengan Ayahku?" tanyaku kemudian.
"Dia masih ditahan di kantor polisi, Ayahmu harus belajar dari semua kesalahan terbesarnya ini," jawabnya tegas.
"Tapi dia Ayahku, aku nggak akan bisa membencinya, mas," kataku lagi.
"Nggak ada seorangpun yang menyuruhmu untuk membencinya, kita hanya harus memberi sedikit pelajaran untuknya, sampai kapanpun nggak akan ada yang bisa memutuskan ikatan darah antara anak dan ayah. Kamu punya hak untuk hidup bebas, Gil. Kamu bisa mengunjunginya kapanpun, tapi tidak sekarang," ujarnya menjelaskan.

Aku tertunduk menangis mendengar kata-kata mas Eka. Dia benar, semua orang harus belajar dari kesalahannya, sekecil apapun. Semua orang berhak untuk bebas dan merdeka atas hidupnya, termasuk juga aku. Bocah laki-laki yang masih berusia 6 tahun yang semestinya sedang bebas bermain sepak bola, bermain kelereng, bersekolah, terkekeh penuh gelak tawa. 
Merdeka, tanpa siksaan Ayah di sisiku...





#1bulan1cerpen