Mataku terbelalak melihatmu pagi ini, kamu begitu cantik. Aku tak menyangka keadaanmu saat ini begitu memukau. Rambutmu lurus terurai rapi, kulitmu putih bersih, sepatu-sepatu itu terlihat pas di kakimu. Kulihat beberapa lelaki juga mengincarmu, tapi aku memaksa agar kau menjadi milikku. Bahkan terlihat sangat memaksa. Sepenuh hati aku ingin membawamu serta pulang, mengenalkannya pada orangtuaku.
Ya, aku maunya kamu, titik. Cuma kamu. Buat aku, kuda poni lain terlihat biasa dan tak menarik. Aku sudah jatuh cinta padamu...
Minggu, 15 Januari 2012
Dearest : RAF & SAF
Assalamualaikum,
Apa kabar anak-anak bunda yang ganteng dan cantik? Sehat-sehat saja kan? Kangen sekali bunda pada kalian, nggak pernah ada habisnya. Buat bunda kalian itu bukan hanya anak yang memang ditakdirkan untuk bunda tapi lebih dari penyempurna hidup bunda. Saat abang RAF lahir dulu, kebahagiaan bunda ini tak terhingga. Makanya saat abang RAF harus dirawat seminggu setelah lahir, bunda panik luar biasa. Tangis ini tak bisa lagi menguatkan bunda, takutnya bunda kehilanganmu nak... Tapi abang, walaupun kamu begitu mungil karena lahir di usia 8 bulan, kamu begitu kuat menjalani semua. Dan itu menjadi sumber kekuatan bunda juga untuk ikhlas menerima kenyataan tentang bilirubin mu yang mencapai 22.
Abang RAF, kamu anak laki-laki bunda satu-satunya, kelak kamu akan menjadi pemimpin, baik dalam keluarga, untuk agama, ataupun negeri ini. Maka jadilah seorang laki-laki sejati, laki-laki penuh tanggung jawab. Terhadap apapun bentuk tanggung jawab itu. Karena bunda nggak pernah mengajarkanmu untuk menjadi laki-laki cengeng dan pengecut. Airmata itu boleh menetes di pipimu tapi untuk membuatmu semakin bangkit dan kuat, bukan membawamu dalam kesedihan dan keterpurukan tanpa ujung. Abang RAF, jadilah laki-laki jujur karena kelak itulah yang wanitamu harapkan dalam rumah tanggamu. Jujur akan membawamu ke jalan kebahagiaan dan kemajuan imanmu selalu. Abang RAF, pesan bunda yang terpenting, jaga imanmu sebagai laki-laki, jangan pernah tinggalkan sholatmu karena ia yang membimbing hidupmu sampai akhir jaman. Abang RAF,jagalah adik perempuanmu satu-satunya.
Ade SAF, bunda cuma punya 1 anak perempuan, dan itu kamu. Ade SAF akan selalu jadi perempuan cantik buat bunda. Saat lahir dulu, ade begitu sehatnya, sampai kami menyebutmu si ndut :) Ade SAF, kamu telah membawa kebahagiaan tersendiri di hati bunda. Belajarlah untuk selalu menjadi wanita sabar. Karena kesabaran membawamu ke jalan ketenangan, apalagi dalam rumah tanggamu kelak. Jadilah perempuan sholehah, jaga imanmu apalagi auratmu. Karena disitulah laki-laki akan menghargaimu sebagai wanita muslimah. Jadilah perempuan jujur dan setia, karena nantinya anak-anakmu akan belajar itu semua darimu sebagai ibunya. Ade SAF, jangan tinggalkan sholatmu karena disitulah imanmu bermuara. Ade SAF, walaupun kamu perempuan, jangan biarkan airmata dan kesedihan berlarut dalam hidupmu. Jadilah wanita kuat dibalik derasnya tangisanmu, jadilah wanita tangguh yang tak gentar menjalani cobaan apapun di dunia ini.
Abang RAF dan ade SAF, anak-anak bunda yang ganteng dan cantik, warnailah selalu hidup kalian dengan senyum, jalani setiap hal yang telah kalian putuskan dengan hati yang legowo. Bunda nggak punya apa-apa di dunia ini untuk bunda wariskan selain pelajaran hidup dan ilmu untuk hidup. RAF dan SAF yang sangat bunda sayangi dan bunda cinta sepanjang masa, betapa bunda bangga teramat sangat memiliki kalian sebagai anak-anak bunda. Kalian selalu memberi coretan terindah buat bunda. Jika nanti bunda tua dan mati, bunda hanya minta jangan pernah putus doa kalian untuk bunda, seperti nadi kita yang sempat menyatu dalam rahim, seperti darah kalian yang selalu bercampur dalam tubuh bunda. Jaga sikap kalian dalam setiap langkah, buat bunda tersenyum bangga saat melihat dari surga. Peluk cium untuk RAF & SAF selalu :)
Wassalam,
Bunda Shanty
Apa kabar anak-anak bunda yang ganteng dan cantik? Sehat-sehat saja kan? Kangen sekali bunda pada kalian, nggak pernah ada habisnya. Buat bunda kalian itu bukan hanya anak yang memang ditakdirkan untuk bunda tapi lebih dari penyempurna hidup bunda. Saat abang RAF lahir dulu, kebahagiaan bunda ini tak terhingga. Makanya saat abang RAF harus dirawat seminggu setelah lahir, bunda panik luar biasa. Tangis ini tak bisa lagi menguatkan bunda, takutnya bunda kehilanganmu nak... Tapi abang, walaupun kamu begitu mungil karena lahir di usia 8 bulan, kamu begitu kuat menjalani semua. Dan itu menjadi sumber kekuatan bunda juga untuk ikhlas menerima kenyataan tentang bilirubin mu yang mencapai 22.
Abang RAF, kamu anak laki-laki bunda satu-satunya, kelak kamu akan menjadi pemimpin, baik dalam keluarga, untuk agama, ataupun negeri ini. Maka jadilah seorang laki-laki sejati, laki-laki penuh tanggung jawab. Terhadap apapun bentuk tanggung jawab itu. Karena bunda nggak pernah mengajarkanmu untuk menjadi laki-laki cengeng dan pengecut. Airmata itu boleh menetes di pipimu tapi untuk membuatmu semakin bangkit dan kuat, bukan membawamu dalam kesedihan dan keterpurukan tanpa ujung. Abang RAF, jadilah laki-laki jujur karena kelak itulah yang wanitamu harapkan dalam rumah tanggamu. Jujur akan membawamu ke jalan kebahagiaan dan kemajuan imanmu selalu. Abang RAF, pesan bunda yang terpenting, jaga imanmu sebagai laki-laki, jangan pernah tinggalkan sholatmu karena ia yang membimbing hidupmu sampai akhir jaman. Abang RAF,jagalah adik perempuanmu satu-satunya.
Ade SAF, bunda cuma punya 1 anak perempuan, dan itu kamu. Ade SAF akan selalu jadi perempuan cantik buat bunda. Saat lahir dulu, ade begitu sehatnya, sampai kami menyebutmu si ndut :) Ade SAF, kamu telah membawa kebahagiaan tersendiri di hati bunda. Belajarlah untuk selalu menjadi wanita sabar. Karena kesabaran membawamu ke jalan ketenangan, apalagi dalam rumah tanggamu kelak. Jadilah perempuan sholehah, jaga imanmu apalagi auratmu. Karena disitulah laki-laki akan menghargaimu sebagai wanita muslimah. Jadilah perempuan jujur dan setia, karena nantinya anak-anakmu akan belajar itu semua darimu sebagai ibunya. Ade SAF, jangan tinggalkan sholatmu karena disitulah imanmu bermuara. Ade SAF, walaupun kamu perempuan, jangan biarkan airmata dan kesedihan berlarut dalam hidupmu. Jadilah wanita kuat dibalik derasnya tangisanmu, jadilah wanita tangguh yang tak gentar menjalani cobaan apapun di dunia ini.
Abang RAF dan ade SAF, anak-anak bunda yang ganteng dan cantik, warnailah selalu hidup kalian dengan senyum, jalani setiap hal yang telah kalian putuskan dengan hati yang legowo. Bunda nggak punya apa-apa di dunia ini untuk bunda wariskan selain pelajaran hidup dan ilmu untuk hidup. RAF dan SAF yang sangat bunda sayangi dan bunda cinta sepanjang masa, betapa bunda bangga teramat sangat memiliki kalian sebagai anak-anak bunda. Kalian selalu memberi coretan terindah buat bunda. Jika nanti bunda tua dan mati, bunda hanya minta jangan pernah putus doa kalian untuk bunda, seperti nadi kita yang sempat menyatu dalam rahim, seperti darah kalian yang selalu bercampur dalam tubuh bunda. Jaga sikap kalian dalam setiap langkah, buat bunda tersenyum bangga saat melihat dari surga. Peluk cium untuk RAF & SAF selalu :)
Wassalam,
Bunda Shanty
Sabtu, 14 Januari 2012
Dear Bocah
Saat aku belum bersamamu, aku hanya lajang tak bermakna, hidupku kaku, persis seperti ranting tak bertuan. Mungkin aku pernah tak memiliki harap dalam jiwa, apalagi kesempatan berjuang. Aku hanya angin yang lalu.
Lalu kamu penuhi warna, yang selama 4 tahun ini tak pernah ku minta. Senyummu tulus tanpa dusta, pelukmu penuh ikhlas tanpa cela, bahkan tangismu penuh hangat didekapku.
Bocahku, kamu akan selalu menjadi nadiku, airmata dan tawaku.
Peluk cium,
Bundamu tercinta
Lalu kamu penuhi warna, yang selama 4 tahun ini tak pernah ku minta. Senyummu tulus tanpa dusta, pelukmu penuh ikhlas tanpa cela, bahkan tangismu penuh hangat didekapku.
Bocahku, kamu akan selalu menjadi nadiku, airmata dan tawaku.
Peluk cium,
Bundamu tercinta
"Kamu manis," kataku.
Perjalanan di kota Bandung ini mengingatkan aku sama kamu. Iya, pertemuan kita yang tanpa sengaja terucap oleh teman dan dikenalkan darinya. Aku sendiri tak ingat pasti tanggal berapa. Yang aku ingat dibalik wujudmu yang hitam,"kamu manis," kataku. Tanpa malu-malu aku membawamu ke tempat aku menginap, menghabiskan waktu di cuaca Bandung yang dingin. Ditemani wedang jahe, kamu nggak kalah hangatnya.
Malam itu begitu inginnya aku membawamu ke Jakarta, ke rumahku. Tapi sepertinya kita belum berjodoh dan harus berpisah di kota kembang ini. Maunya sih kamu bisa menemaniku setidaknya dalam perjalanan pulangku, tapi ternyata...
Siang ini aku mencarimu, mungkin kita dapat mengulang cerita yang lalu. Agak lupa dengan daerah ini, aku sempat berputar-putar. Sempat beberapa kali bertanya pada warga setempat dimana tempatmu tapi justru aku semakin bingung.
"Akhirnya kita ketemu juga," aku tersenyum. Betapa rindunya aku sama kamu, hitammu, manismu. Aku melahap brownis kukus yang masih hangat ini :)
Malam itu begitu inginnya aku membawamu ke Jakarta, ke rumahku. Tapi sepertinya kita belum berjodoh dan harus berpisah di kota kembang ini. Maunya sih kamu bisa menemaniku setidaknya dalam perjalanan pulangku, tapi ternyata...
Siang ini aku mencarimu, mungkin kita dapat mengulang cerita yang lalu. Agak lupa dengan daerah ini, aku sempat berputar-putar. Sempat beberapa kali bertanya pada warga setempat dimana tempatmu tapi justru aku semakin bingung.
"Akhirnya kita ketemu juga," aku tersenyum. Betapa rindunya aku sama kamu, hitammu, manismu. Aku melahap brownis kukus yang masih hangat ini :)
Jumat, 13 Januari 2012
dag dig dug...
Pria besar ini masih saja coba memaksaku. Penolakanku tak digubrisnya, malah ia terus merayuku. "Aku nggak mau! Aku kapok, aku nggak mau!" aku mulai berteriak. Kenapa kamu masih saja memaksa, merayu agar aku terbujuk melakukannya. Aku bergegas berlari masuk, tapi kamu justru memegang tanganku erat, menarikku untuk tetap didekatmu. Sepertinya sebentar lagi aku mulai menangis. Ah, benar saja, tatapanmu yang tajam dan menakutkan membuatku langsung menangis. Kenapa kamu sedikitpun nggak mau menghargai aku, keputusan aku?
Aku takut, takut setengah mati, buat aku ini seperti mengulang kejadian minggu lalu. Tapi hari ini aku dipaksa untuk melakukan hal itu lagi, bersamamu. Keringat ini mendadak terasa sebesar butiran jagung yang ada di sekujur tubuh, jantung ini berdegup kencang, sekencang paksaan dan rayuanmu yang tak mungkin aku tolak. Ya Tuhan, sumpah aku takut, apa aku benar-benar harus melakukannya lagi? Kedua tanganku sepertinya mulai bergetar kuat, tak beda jauh dengan keadaan kedua kakiku. "Bisa nggak sih kamu nggak menatapku seperti itu?" tangisku dalam hati. Tatapanmu semakin memojokkanku.
Aku tahu kamu memang laki-laki keras kepala, egois, kalau sudah maunya ya harus dituruti. Kalau saja bukan karena rasa sayangku yang besar, aku nggak mau mengikuti keinginanmu ini. Sambil menarik napas panjang aku berusaha memegangnya, pelan-pelan aku naik dan mengayuhnya dengan dag dig dug... "Ayaaaahhhhh!!!! Aku takuuuttt!!!" aku berteriak memegang stang sepeda yang mulai berbelok-belok. "Gubraaaakkk...!!!" "Cikaaa...kamu nggak papa?" Ayah berlari menuju selokan tempat aku jatuh dari sepeda. "Aku kan udah bilang, aku nggak mau! Aku kapok!" teriakku kesal. Ayah hanya tertawa geli.
Aku takut, takut setengah mati, buat aku ini seperti mengulang kejadian minggu lalu. Tapi hari ini aku dipaksa untuk melakukan hal itu lagi, bersamamu. Keringat ini mendadak terasa sebesar butiran jagung yang ada di sekujur tubuh, jantung ini berdegup kencang, sekencang paksaan dan rayuanmu yang tak mungkin aku tolak. Ya Tuhan, sumpah aku takut, apa aku benar-benar harus melakukannya lagi? Kedua tanganku sepertinya mulai bergetar kuat, tak beda jauh dengan keadaan kedua kakiku. "Bisa nggak sih kamu nggak menatapku seperti itu?" tangisku dalam hati. Tatapanmu semakin memojokkanku.
Aku tahu kamu memang laki-laki keras kepala, egois, kalau sudah maunya ya harus dituruti. Kalau saja bukan karena rasa sayangku yang besar, aku nggak mau mengikuti keinginanmu ini. Sambil menarik napas panjang aku berusaha memegangnya, pelan-pelan aku naik dan mengayuhnya dengan dag dig dug... "Ayaaaahhhhh!!!! Aku takuuuttt!!!" aku berteriak memegang stang sepeda yang mulai berbelok-belok. "Gubraaaakkk...!!!" "Cikaaa...kamu nggak papa?" Ayah berlari menuju selokan tempat aku jatuh dari sepeda. "Aku kan udah bilang, aku nggak mau! Aku kapok!" teriakku kesal. Ayah hanya tertawa geli.
Kamis, 12 Januari 2012
"Halo, siapa namamu?"
"Bagas, cepat pulang, Rafika sudah sadar," suara Mama Ina di telepon membuatku bahagia bercampur haru. Aku bergegas merapihkan meja kerjaku, perasaan yang selama 2 tahun ini sudah aku nantikan. Tak lupa aku membawakan bunga lily kesukaan Rafika, bunga yang juga aku berikan di setiap pagi sejak Rafika terbaring karena kecelakaan. 2 tahun Rafika tidur dalam komanya dan baru terbangun di sore ini. Sungguh perasaan yang antusias sekali. Merawat dan menjaganya dengan penuh kasih sayang dan penuh harapan.
Sayangnya jalanan sangat tidak bersahabat, hujan besar dan kemacetan ibu kota membuatku harus menahan semua peluh rindu untuk Rafika. Aku teringat masa itu, masa yang selalu penuh warna, masa yang kamu katakan tak pernah ingin kamu ganti dengan apapun. Pelukan yang tak pernah aku dapatkan dari wanita manapun selain Ibuku, perhatian yang tak pernah terganti oleh perempuan lain, rangkulan mesra saat aku rapuh, lentiknya jari jemarimu yang menghapus airmataku dalam sedihku, dan tatapanmu... Aku rindu tatapan itu, aku rindu tatapan manja mata coklatmu.
Rafika, kamu adalah momen terindah dalam hidupku, berbagi warna denganmu adalah inginku selalu, apalagi menyatukan nadiku dengan jiwamu, menjadi kita... Kita yang sempat tertunda...
Lantas mengapa aku jadi ragu berjalan di lorong ini? Padahal aku sangat berharap menyapamu, memelukmu, melepas kerinduan kita. Pelan-pelan aku buka pintu kamar, kulihat kamu duduk diatas kursi roda dengan pandangan jauh ke depan, apakah menatap masa depan kita? Seketika kamu melihatku, tersenyum... Senyum yang sangat aku tunggu.
"Halo, Rafika," ucapku pelan. "Halo, siapa namamu?" sahut Rafika tersenyum. Aku tersentak diam. Ya Tuhan, ia tidak mengenalku??? Sedikitpun??? "Rafika terkena amnesia, Gas," ujar Mama Ina dalam tangisnya. Rafika, aku suamimu...
Sayangnya jalanan sangat tidak bersahabat, hujan besar dan kemacetan ibu kota membuatku harus menahan semua peluh rindu untuk Rafika. Aku teringat masa itu, masa yang selalu penuh warna, masa yang kamu katakan tak pernah ingin kamu ganti dengan apapun. Pelukan yang tak pernah aku dapatkan dari wanita manapun selain Ibuku, perhatian yang tak pernah terganti oleh perempuan lain, rangkulan mesra saat aku rapuh, lentiknya jari jemarimu yang menghapus airmataku dalam sedihku, dan tatapanmu... Aku rindu tatapan itu, aku rindu tatapan manja mata coklatmu.
Rafika, kamu adalah momen terindah dalam hidupku, berbagi warna denganmu adalah inginku selalu, apalagi menyatukan nadiku dengan jiwamu, menjadi kita... Kita yang sempat tertunda...
Lantas mengapa aku jadi ragu berjalan di lorong ini? Padahal aku sangat berharap menyapamu, memelukmu, melepas kerinduan kita. Pelan-pelan aku buka pintu kamar, kulihat kamu duduk diatas kursi roda dengan pandangan jauh ke depan, apakah menatap masa depan kita? Seketika kamu melihatku, tersenyum... Senyum yang sangat aku tunggu.
"Halo, Rafika," ucapku pelan. "Halo, siapa namamu?" sahut Rafika tersenyum. Aku tersentak diam. Ya Tuhan, ia tidak mengenalku??? Sedikitpun??? "Rafika terkena amnesia, Gas," ujar Mama Ina dalam tangisnya. Rafika, aku suamimu...
Rabu, 04 Januari 2012
Jgn Jadikan Aku Istrimu (Renungan buat suami)
Jangan jadikan Aku Istrimu,
jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain,
kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu,
melihatmu begitu pulas,
wajah mantan pacarku yang terlihat begitu sempurnapun takkan mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.
Jangan Jadikan Aku istrimu,
jika nanti kamu enggan bangun hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam,
sedang selama 9 bulan aku harus membawanya di perutku,
membuat badanku pegal dan tak bisa tidur sesukaku.
Jangan Jadikan Aku Istrimu,
jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka maupun sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita.
kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku,
padamu aku hanya ingin berbagi dan aku bukan hanya teman tidurmu yang tidak bisa di ajak bercerita sebagai seorang sahabat.
Jangan Jadikan Aku Istrimu,
jika nanti kamu langsung tertidur setelah kita bercinta,
kamu harus tahu aku menikmati kebersamaan denganmu dan mendengar rayuan gombalmu yang lebih terdengar lucu dari pada romantis adalah saat2 yang ku tunggu..
Jangan Jadikan Aku Istrimu,
jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menceraikan diriku
kamu tahu betul kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen kita untuk hidup bersama.
Jangan Jadikan Aku Istrimu,
jika nanti kamu memilih tamparan dan kata2 kasar untuk memperinagtkan kesalahanku, sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa.
Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,
jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu dengan teman-temanmu.
Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dengan setrikaan yang menumpuk dan aku bahkan tidak sempat menyisir rambutku, anak dan rumah bukan hanya kewajibanku karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu dan jika boleh memilih aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu tahu bagaimana rasanya.
Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,
jika nanti kamu lebih sering berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga.
Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku.
Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga larema kita tidak hidup hari ini saja.
Jangan Pilih Aku Jadi Istrimu,
jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu.
Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan ku biarkan kata-katamu menyakitiku bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan,
bukan hanya seseorang yang sedap di pandang mata tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi menyapa.
Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.
Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,
jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang.
Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tuguhku karena aku tidak punya waktu untuk diriku sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.
Jangan Buru-buru Menjadikan Aku Istrimu,
jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah.
Kamu tidak tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon dan tidak ingin apa yang di sebut "kewajiban" membuatku terisolasi dari pergaulan aku semakin d sibukkan dengan urusan rumah tangga.
Menikah bukan untuk menghapuskan identitas kita sebagai individu tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.
Jangan Buru-buru Menikahiku,
jika saat ini kamu masih ingin meraih impian mimpi muda aku hanya akan menjad ipenghalang untuk langkahmu itu,
meski menikah denganmu adalah
impian terbesarku,
aku tidak akan keberatan menunda itu demi cita-citamu karena aku juga punya cita-cita dan aku tahu bagaimana rasanya jika berhasil meraihnya.
Jangan Buru-buru Menikahiku,
jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaanya.
Bagiku hidup lebih lebih dari angka yang kita sebut umur,
aku tidak ingin menikah karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku.
Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidupku yang tidak ingin ku sesali hanya karena terburu-buru.
Jangan Buru-buru Menikahiku,
jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan,
aku takkan keberatan membetulkan genting rumah dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.
Hapus Aku Dari Daftar Calon Istrimu,
jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu.
Kamu harus tahu meski cintamu sudah ku perjuangkan,
aku takkan ragu untuk meninggalkanmu.
Jangan Jadikan Aku Istrimu,
jika kamu masih berpikir kamulah cinta pertamaku sedang setiap hari aku masih harus mendengar nama-nama mantanmu dan berusaha sekuat tenaga menghilangkan rasa cemburu yang mungkin tidak beralasan tapi kamu harus yakin,
kamulah cinta terakhir dan satu-satunya cinta yang ingin ku jalani sampai akhir hayatku...
Jangan Jadikan Aku Sebagai Istrimu,
jika kamu pikir bisa menduakan cinta kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang ku pilih mengkhianatiku.
Jangan Jadikan Aku Sebagai Istrimu,
jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu jika kamu belum tahu satu saja alasan karena aku harus menerimamu sebagai suamiku.
#dari blognya om Ruly
jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain,
kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu,
melihatmu begitu pulas,
wajah mantan pacarku yang terlihat begitu sempurnapun takkan mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.
Jangan Jadikan Aku istrimu,
jika nanti kamu enggan bangun hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam,
sedang selama 9 bulan aku harus membawanya di perutku,
membuat badanku pegal dan tak bisa tidur sesukaku.
Jangan Jadikan Aku Istrimu,
jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka maupun sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita.
kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku,
padamu aku hanya ingin berbagi dan aku bukan hanya teman tidurmu yang tidak bisa di ajak bercerita sebagai seorang sahabat.
Jangan Jadikan Aku Istrimu,
jika nanti kamu langsung tertidur setelah kita bercinta,
kamu harus tahu aku menikmati kebersamaan denganmu dan mendengar rayuan gombalmu yang lebih terdengar lucu dari pada romantis adalah saat2 yang ku tunggu..
Jangan Jadikan Aku Istrimu,
jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menceraikan diriku
kamu tahu betul kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen kita untuk hidup bersama.
Jangan Jadikan Aku Istrimu,
jika nanti kamu memilih tamparan dan kata2 kasar untuk memperinagtkan kesalahanku, sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa.
Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,
jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu dengan teman-temanmu.
Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dengan setrikaan yang menumpuk dan aku bahkan tidak sempat menyisir rambutku, anak dan rumah bukan hanya kewajibanku karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu dan jika boleh memilih aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu tahu bagaimana rasanya.
Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,
jika nanti kamu lebih sering berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga.
Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku.
Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga larema kita tidak hidup hari ini saja.
Jangan Pilih Aku Jadi Istrimu,
jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu.
Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan ku biarkan kata-katamu menyakitiku bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan,
bukan hanya seseorang yang sedap di pandang mata tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi menyapa.
Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.
Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,
jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang.
Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tuguhku karena aku tidak punya waktu untuk diriku sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.
Jangan Buru-buru Menjadikan Aku Istrimu,
jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah.
Kamu tidak tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon dan tidak ingin apa yang di sebut "kewajiban" membuatku terisolasi dari pergaulan aku semakin d sibukkan dengan urusan rumah tangga.
Menikah bukan untuk menghapuskan identitas kita sebagai individu tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.
Jangan Buru-buru Menikahiku,
jika saat ini kamu masih ingin meraih impian mimpi muda aku hanya akan menjad ipenghalang untuk langkahmu itu,
meski menikah denganmu adalah
impian terbesarku,
aku tidak akan keberatan menunda itu demi cita-citamu karena aku juga punya cita-cita dan aku tahu bagaimana rasanya jika berhasil meraihnya.
Jangan Buru-buru Menikahiku,
jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaanya.
Bagiku hidup lebih lebih dari angka yang kita sebut umur,
aku tidak ingin menikah karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku.
Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidupku yang tidak ingin ku sesali hanya karena terburu-buru.
Jangan Buru-buru Menikahiku,
jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan,
aku takkan keberatan membetulkan genting rumah dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.
Hapus Aku Dari Daftar Calon Istrimu,
jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu.
Kamu harus tahu meski cintamu sudah ku perjuangkan,
aku takkan ragu untuk meninggalkanmu.
Jangan Jadikan Aku Istrimu,
jika kamu masih berpikir kamulah cinta pertamaku sedang setiap hari aku masih harus mendengar nama-nama mantanmu dan berusaha sekuat tenaga menghilangkan rasa cemburu yang mungkin tidak beralasan tapi kamu harus yakin,
kamulah cinta terakhir dan satu-satunya cinta yang ingin ku jalani sampai akhir hayatku...
Jangan Jadikan Aku Sebagai Istrimu,
jika kamu pikir bisa menduakan cinta kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang ku pilih mengkhianatiku.
Jangan Jadikan Aku Sebagai Istrimu,
jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu jika kamu belum tahu satu saja alasan karena aku harus menerimamu sebagai suamiku.
#dari blognya om Ruly
Langganan:
Postingan (Atom)