YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 13 Januari 2012

dag dig dug...

Pria besar ini masih saja coba memaksaku. Penolakanku tak digubrisnya, malah ia terus merayuku. "Aku nggak mau! Aku kapok, aku nggak mau!" aku mulai berteriak. Kenapa kamu masih saja memaksa, merayu agar aku terbujuk melakukannya. Aku bergegas berlari masuk, tapi kamu justru memegang tanganku erat, menarikku untuk tetap didekatmu. Sepertinya sebentar lagi aku mulai menangis. Ah, benar saja, tatapanmu yang tajam dan menakutkan membuatku langsung menangis. Kenapa kamu sedikitpun nggak mau menghargai aku, keputusan aku?

Aku takut, takut setengah mati, buat aku ini seperti mengulang kejadian minggu lalu. Tapi hari ini aku dipaksa untuk melakukan hal itu lagi, bersamamu. Keringat ini mendadak terasa sebesar butiran jagung yang ada di sekujur tubuh, jantung ini berdegup kencang, sekencang paksaan dan rayuanmu yang tak mungkin aku tolak. Ya Tuhan, sumpah aku takut, apa aku benar-benar harus melakukannya lagi? Kedua tanganku sepertinya mulai bergetar kuat, tak beda jauh dengan keadaan kedua kakiku. "Bisa nggak sih kamu nggak menatapku seperti itu?" tangisku dalam hati. Tatapanmu semakin memojokkanku.

Aku tahu kamu memang laki-laki keras kepala, egois, kalau sudah maunya ya harus dituruti. Kalau saja bukan karena rasa sayangku yang besar, aku nggak mau mengikuti keinginanmu ini. Sambil menarik napas panjang aku berusaha memegangnya, pelan-pelan aku naik dan mengayuhnya dengan dag dig dug... "Ayaaaahhhhh!!!! Aku takuuuttt!!!" aku berteriak memegang stang sepeda yang mulai berbelok-belok. "Gubraaaakkk...!!!" "Cikaaa...kamu nggak papa?" Ayah berlari menuju selokan tempat aku jatuh dari sepeda. "Aku kan udah bilang, aku nggak mau! Aku kapok!" teriakku kesal. Ayah hanya tertawa geli.

Kamis, 12 Januari 2012

"Halo, siapa namamu?"

"Bagas, cepat pulang, Rafika sudah sadar," suara Mama Ina di telepon membuatku bahagia bercampur haru. Aku bergegas merapihkan meja kerjaku, perasaan yang selama 2 tahun ini sudah aku nantikan. Tak lupa aku membawakan bunga lily kesukaan Rafika, bunga yang juga aku berikan di setiap pagi sejak Rafika terbaring karena kecelakaan. 2 tahun Rafika tidur dalam komanya dan baru terbangun di sore ini. Sungguh perasaan yang antusias sekali. Merawat dan menjaganya dengan penuh kasih sayang dan penuh harapan.

Sayangnya jalanan sangat tidak bersahabat, hujan besar dan kemacetan ibu kota membuatku harus menahan semua peluh rindu untuk Rafika. Aku teringat masa itu, masa yang selalu penuh warna, masa yang kamu katakan tak pernah ingin kamu ganti dengan apapun. Pelukan yang tak pernah aku dapatkan dari wanita manapun selain Ibuku, perhatian yang tak pernah terganti oleh perempuan lain, rangkulan mesra saat aku rapuh, lentiknya jari jemarimu yang menghapus airmataku dalam sedihku, dan tatapanmu... Aku rindu tatapan itu, aku rindu tatapan manja mata coklatmu.

Rafika, kamu adalah momen terindah dalam hidupku, berbagi warna denganmu adalah inginku selalu, apalagi menyatukan nadiku dengan jiwamu, menjadi kita... Kita yang sempat tertunda...

Lantas mengapa aku jadi ragu berjalan di lorong ini? Padahal aku sangat berharap menyapamu, memelukmu, melepas kerinduan kita. Pelan-pelan aku buka pintu kamar, kulihat kamu duduk diatas kursi roda dengan pandangan jauh ke depan, apakah menatap masa depan kita? Seketika kamu melihatku, tersenyum... Senyum yang sangat aku tunggu.

"Halo, Rafika," ucapku pelan. "Halo, siapa namamu?" sahut Rafika tersenyum. Aku tersentak diam. Ya Tuhan, ia tidak mengenalku??? Sedikitpun??? "Rafika terkena amnesia, Gas," ujar Mama Ina dalam tangisnya. Rafika, aku suamimu...

Rabu, 04 Januari 2012

Jgn Jadikan Aku Istrimu (Renungan buat suami)

Jangan jadikan Aku Istrimu,

jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain,

kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu,

melihatmu begitu pulas,

wajah mantan pacarku yang terlihat begitu sempurnapun takkan mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.



Jangan Jadikan Aku istrimu,

jika nanti kamu enggan bangun hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam,

sedang selama 9 bulan aku harus membawanya di perutku,

membuat badanku pegal dan tak bisa tidur sesukaku.



Jangan Jadikan Aku Istrimu,

jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka maupun sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita.

kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku,

padamu aku hanya ingin berbagi dan aku bukan hanya teman tidurmu yang tidak bisa di ajak bercerita sebagai seorang sahabat.



Jangan Jadikan Aku Istrimu,

jika nanti kamu langsung tertidur setelah kita bercinta,

kamu harus tahu aku menikmati kebersamaan denganmu dan mendengar rayuan gombalmu yang lebih terdengar lucu dari pada romantis adalah saat2 yang ku tunggu..



Jangan Jadikan Aku Istrimu,

jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menceraikan diriku

kamu tahu betul kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen kita untuk hidup bersama.



Jangan Jadikan Aku Istrimu,

jika nanti kamu memilih tamparan dan kata2 kasar untuk memperinagtkan kesalahanku, sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa.



Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,

jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu dengan teman-temanmu.

Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dengan setrikaan yang menumpuk dan aku bahkan tidak sempat menyisir rambutku, anak dan rumah bukan hanya kewajibanku karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu dan jika boleh memilih aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu tahu bagaimana rasanya.



Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,

jika nanti kamu lebih sering berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga.

Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku.

Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga larema kita tidak hidup hari ini saja.



Jangan Pilih Aku Jadi Istrimu,

jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu.

Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan ku biarkan kata-katamu menyakitiku bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan,

bukan hanya seseorang yang sedap di pandang mata tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi menyapa.

Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.



Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,

jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang.

Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tuguhku karena aku tidak punya waktu untuk diriku sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.



Jangan Buru-buru Menjadikan Aku Istrimu,

jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah.

Kamu tidak tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon dan tidak ingin apa yang di sebut "kewajiban" membuatku terisolasi dari pergaulan aku semakin d sibukkan dengan urusan rumah tangga.

Menikah bukan untuk menghapuskan identitas kita sebagai individu tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.



Jangan Buru-buru Menikahiku,

jika saat ini kamu masih ingin meraih impian mimpi muda aku hanya akan menjad ipenghalang untuk langkahmu itu,

meski menikah denganmu adalah

impian terbesarku,

aku tidak akan keberatan menunda itu demi cita-citamu karena aku juga punya cita-cita dan aku tahu bagaimana rasanya jika berhasil meraihnya.



Jangan Buru-buru Menikahiku,

jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaanya.

Bagiku hidup lebih lebih dari angka yang kita sebut umur,

aku tidak ingin menikah karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku.

Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidupku yang tidak ingin ku sesali hanya karena terburu-buru.



Jangan Buru-buru Menikahiku,

jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan,

aku takkan keberatan membetulkan genting rumah dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.



Hapus Aku Dari Daftar Calon Istrimu,

jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu.

Kamu harus tahu meski cintamu sudah ku perjuangkan,

aku takkan ragu untuk meninggalkanmu.



Jangan Jadikan Aku Istrimu,

jika kamu masih berpikir kamulah cinta pertamaku sedang setiap hari aku masih harus mendengar nama-nama mantanmu dan berusaha sekuat tenaga menghilangkan rasa cemburu yang mungkin tidak beralasan tapi kamu harus yakin,

kamulah cinta terakhir dan satu-satunya cinta yang ingin ku jalani sampai akhir hayatku...



Jangan Jadikan Aku Sebagai Istrimu,

jika kamu pikir bisa menduakan cinta kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang ku pilih mengkhianatiku.



Jangan Jadikan Aku Sebagai Istrimu,

jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu jika kamu belum tahu satu saja alasan karena aku harus menerimamu sebagai suamiku. 



#dari blognya om Ruly

Jumat, 16 Desember 2011

Jahitan, Sakit Gigi dan Perselingkuhan

Buat perempuan, hamil dan melahirkan adalah kodrat yang memang sudah harus dijalanin setelah menikah. Kalo belum menikah sudah hamil dan melahirkan? Wah gw nggak berani komen, karena sudah masuk area pribadi dan hobi pribadi ;) Melahirkan menurut gw adalah perjuangan sepanjang masa. Lebih dari perjuangan rakyat Indonesia saat perang melawan Belanda atau Jepang :) Lebih dari perjuangan saat kita berusaha ngeluarin BAB yang keras :)) Melahirkan adalah perjuangan antara hidup dan mati. Itulah kenapa para lelaki harus wajib kudu dan mesti hormat sama perempuan, apalagi perempuan itu adalah ibu atau istri lu sendiri. Saat gw melahirkan anak ke-2 gw hampir sebulan yang lalu, hal yang paling gw rasain sampe detik ini adalah jahitan bekas melahirkan yang cenat cenutnya luar biasa lama banget, bahkan lebih eksis dari cenat cenutnya Smash di tangga lagu mana pun. Menurut dokter, waktu gw ngejan alias ngeden itu gw sempet gerak gerak agak heboh alhasil bukan cuma sekitar area lahiran yang dijahit tapi agak sedikit meluas ke area belakang gw. Hell yeah! Kebayang kan sakitnya? Nggak dibius pula halaaahh...makasi loh dokter...gw malah harus nahan sakit pas lagi dijahit. Ini nikmatnya memang tiada dua, dahsyatnya tak terkalahkan. Gimana jaman nenek-nenek dulu yang anaknya bisa sampe 7 atau 10 walah...4 jempol deh dari gw :)
Kalo jahitan melahirkan sudah bikin gw meringis-meringis nahan nangis, sakit gigi nggak beda jauh. Bedanya adalah sakit gigi itu hasrat pengen nampol orangnya lebih besar dibanding ngerasain jahitan melahirkan. Tapi nggak tahu juga ya kalo sakit gigi bersatu dengan jahitan operasi gigi geraham paling belakang n akhir plus tumbuh dengan posisi nggak layak. Hadeeuuhhhh....nggak kebayang...secara gw sakit gigi biasa aja sudah ngamuk-ngamuk nggak jelas. Jujur, gw agak was-was kalo harus ke dokter gigi, mungkin karena memang nggak dibiasain dari kecil sama ortu gw jadi gw kadang ngeri sendiri hehe.. Apalagi kalo sampe di dokter lagi di ruang tunggu banyak gambar-gambar gigi bermasalah hmmm.... males yaaa... Rasanya saat sakit gigi gitu pengen gw angkat aja nih rahang titip ke bu dentist buat di service dulu ntar gw balik lagi :)) Kalo ada lagu lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati, asli deh, kalo gw sih menolak berat buat sakit gigi, gw mending sakit hati...
Iya beneran gw lebih milih sakit hati dari pada sakit gigi, tapi ya bukan soal selingkuh juga kali. Menurut gw perselingkuhan adalah hal tersakit seumur hidup. Yang melakukan sakit (sakit jiwa maksudnya), yang jadi pasangannya tersakiti. Perselingkuhan buat gw pembuktian sampe sejauh mana kadar rasa bersyukur lu. Kalo lu sudah bersyukur atas pasangan lu, apapun keadaannya, gw yakin lu nggak akan selingkuh. Sebesar apa sih rasa sakit akibat perselingkuhan? Amat sangat besar banget... Menurut gw lebih dari jahitan bekas melahirkan, lebih dari sakit gigi berbulan-bulan. Nah tadi katanya lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati? Iya secara lahiriah gw lebih milih sakit gigi. Buat gw perselingkuhan apapun alasannya ya tetep perselingkuhan, dan itu sakitnya luar binasa bkn biasa lg :) Entah kenapa banyak orang ngelakuin hal nista ini, mungkin tantangannya kali ya? Ya kenapa nggak banji jamping ajah atau jadi racer. Kalo lu memang sudah ngebet sama seseorang, beresin dulu aja urusan lu sama pasangan lu yang bener, baru cari pasangan lagi. Buat gw sih orang-orang kayak gini tinggal nunggu karmanya aja. Saat ini mereka masih jumawa, sombong, ngerasa paling bener plus membenarkan segalanya. Manusia model gini memang selalu lupa sama Tuhan, iya kan? Ya iyalah, sama pasangannya aja lupa gimana sama Tuhan :)
Antara jahitan, sakit gigi dan perselingkuhan sama-sama mengemban rasa sakit, menurut gw. Mungkin kadar sakitnya aja yang agak beda. Tapi mau gimanapun juga, rasa sakit tetaplah rasa sakit, sekuat tenaga lu coba buat denial ya tetap akan sakit. Meringis, menangis, ngedumel, sampe pengen nampol orang, itu sebagian dari efek yang ditimbulkan dari sakit. Well, itulah sakit, selama lu hidup lu akan terus menemukannya, walaupun lu menolak keras, dalam bentuk jahitan, sakit gigi, perselingkuhan, sakit perut, pengkhianatan, sakit kepala, apapun itu. Yang terpenting sebenarnya bukan sakitnya tapi gimana kita menyikapi rasa sakit yang kita rasain (tuh kan sok bgt bahasa gw :p ) dan menghadapi orang2 atau apapun yang menyakiti kita, pilih bersikap murka atau legowo :)

Selasa, 06 Desember 2011

Lengkapkah Hidupmu?

Satu persatu kepingan hidupku semakin bertambah. 4 Tahun 7 bulan yang lalu, seorang lelaki menjadi bagian hidupku. Memutuskan untuk memilihmu di usia kedekatan kita yang hanya 9 bulan adalah hal yang menakjubkan. Harapanku, smoga hati ini slalu kau jaga, kau sayang, tdk untuk dianiaya. Harapanku, sampai tua bersama kita tetap saling berpegangan tangan, apapun hal yang ada di depan kita. Bukan aku menggenggam tanganku sendiri. Bagiku, kamu bukanlah 'the missing puzzle' karena aku tdk menjadikan biduk kita sebagai permainan seperti layaknya puzzle. Kamu dan aku adalah keberkahan, ladang amal buat hidup kita. Kita adalah rasa syukur tanpa henti. Mencintaimu adalah hal khusus, menyayangimu adalah hal terindah, merindukanmu adalah hal yang tak pernah mau aku akhiri. Kamu menciptakan tangisan haru saat benih kita hadir, haru akan suara adzan yang berkumandang di telinga kanan mereka. Suami hanyalah sebuah kata jika tanpa istri, untuk itulah kamu ada, dan istri juga hanya sebuah kata tanpa suami, oleh karena itu aku ada. Luv u jodohku, luv u kuda jabrik ku, I luv u yank :)

Awal 2008, kepingan mungil di hidupku adalah kamu, putra kecilku. Kado ultah terindah yang pernah ada di sepanjang hidupku. Ya, kamu lahir seminggu stlh ultahku. Melahirkanmu di usia kehamilan yang masih 8 bulan membuatku belajar banyak mengenai hidup. Menjagamu setiap detik dan hela nafasku, menyayangimu di setiap aliran darahku, menyusuimu hingga kamu tumbuh. 3 Tahun 11 bulan yang lalu, kamu hanya bayi mungil yang tanpa daya harus masuk rs kembali karena bilirubin mencapai 22. Takutnya aku kehilanganmu nak... Tapi rasa ikhlas ku ternyata lebih besar, aku yakin kamu anak yang kuat. Alhamdulillah kamu tumbuh sehat nak... Kamu tumbuh menjadi anak yang sangat menyenangkan, walau agak sensitif kamu termasuk anak yang gampang mengambil hati orang lain. Ultah pertama dgn kue imut nan mungil, kamu lucu bgt, tiup lilin cuma kita sekeluarga plus oma opa. Ultah kedua dgn kue lumayan besar dan kumpul2 bareng keluarga, sepupu2, uwa, oma, opa. Ultah ketiga dgn kue yang besar bertema thomas train fav mu, semua teman, saudara, keluarga, kumpul merayakan ultah mu. Senangnya kamu nak... Tahun depan insyaallah kamu sudah mulai sekolah TK A, smoga kamu jd anak baik, sholeh,pintar dan penyayang. Apalagi sekarang kamu sudah menjadi abang yang sayang banget sama ade. Bunda dan Papa percaya kamu bisa jadi abang yang baik dan melindungi. I love u abang...muah!

Hampir di penghujung November 2011, kepingan mungil kembali hadir di ruang kebahagiaan kami. Putri kecil ku lahir dgn sehat dan selamat. Anak perempuan nan cantik dan putih. Smoga nama yang kami berikan menjadi doa di tiap langkah2 baru mu kelak nak... Jadilah perempuan baik, perempuan sholehah, perempuan yang menghargai dirinya sendiri, perempuan sabar dan memiliki keberuntungan seperti namamu. Jadilah perempuan yang mempunyai malu, hingga kamu hargai auratmu selalu. Jadilah perempuan yang kuat dan tangguh, perempuan yang tdk gampang menyerah. Smoga rintangan dan cobaan yang akan kamu hadapi nanti, selalu membuatmu semakin mengerti arti hidup. Selamat datang di dunia nan fana ini anakku... I love u ade...muah!

Dan sudah lengkapkah hidupmu? Ya, untuk semua kepingan ini, untuk semua keharuan ini, untuk semua kebahagiaan ini, bahkan untuk semua kepiluan, untuk semua kekesalan, untuk semua hari nan berawan mendung. Buatku semua kelengkapan ini adalah paket khusus dalam hidupku. Aku tdk menyebut semua ketidaknyamanan itu sebagai kesialan apalagi kepahitan. Toh semua orang memiliki paket khusus dalam hidupnya. Kalaupun aku merasa hidupku lengkap, mungkin yang paling bisa dirasakan adalah hadirnya kepingan2 mungil, RAF dan SAF. Anak2 akan selalu jadi bagian terpenting dalam hidupku saat ini. Mereka sumber kekuatanku, semangatku, dan alasanku untuk berjuang. Allah udah baik banget sama aku, udah melengkapi hidupku dengan semua ini, terima kasih ya Allah :)

Selasa, 23 Agustus 2011

Tembok Perwakilan


Pernah dengar istilah "tembok bisa bicara" ? Nah itu tuh salah satu contoh perwakilan alias representative di beberapa pekerjaan. Entah siapa yang membiarkan para tembok ini bicara dan ikut serta dalam kegiatan pekerjaan. Apalagi jadi perwakilan or jubir suatu kantor. Mungkin posisinya melebihi manager atau para sekretaris, karena saking terlalu banyaknya yang percaya sama si tembok ini. Mungkin cv nya begitu hebat sampai bisa buat para bos-bos percaya berlebihan. Pada nggak ingat Tuhan apa ya? Dan hari ini saya kembali merasakan arti hadirnya sang tembok ini.
Padahal ya saya tuh ada di depan hidung mereka, tapi tetap saja mereka lebih memilih berguru dan mencari info dari tembok. Bagian paling tepat untuk menghadapi mereka ya dengan sabar, sabar dan sabar. Walau saya tahu sabar itu nggak akan bikin mereka sadar malah bikin mereka makin menjadi. Menjalin persahabatan dengan si tembok pun kayaknya percuma, toh dia lebih memilih status dan jenjang yang lebih memadai dibanding saya, kroco.
Buat kamu, kamu atau kamu, yang telah setia selama ini menjadi tembok perwakilan, selamatlah. Akan tiba saatnya nanti kalian runtuh dan berdebu. Terkikis dan tertiup angin. Dan saya, hanya bisa memandang dari kejauhan. Semoga tanpa dendam kesumat, tanpa sakit hati. Tapi dengan hati yang puas, senyuman bahagia. Bahwa saya, tak pernah menjalin sesuatu ikatan apapun dengan tembok manapun.

Kamis, 11 Agustus 2011

My Soul and My Soulmate


Pernah berpikir tentang soulmate? Biasanya ngomongin soal soulmate kaitannya pasti ama pasangan kita. Padahal di dunia ini soulmate seseorang bukan cuma pasangan hidup. Toh beberapa orang menemukan soulmate pada diri Ibu, Ayah, Kakak, Adik, atau sahabatnya. Menurut mereka, soulmate bukan soal berbagi napsu dan tempat tidur layaknya pasangan, tapi lebih kepada pengabdian saat kita jatuh, terpuruk, senang, susah, semua kisah, tersandar di bahu soulmate kita, begitupun sebaliknya. Terkadang kita memang terlalu mengagungkan kata "belahan jiwa" pada pasangan kita, sampai kita sendiri mempertanyakan apakah ia memang soulmate kita? Nah loh??
Saya pernah bertanya pada beberapa sahabat, siapa soulmate mereka. Jawaban mereka hampir berbarengan, dan sama : Suami. Padahal saya tahu gimana cerita pernikahan mereka, gimana rumah tangga mereka, gimana terpuruk dan airmata ada ditiap episode nya. Tapi mereka tetap berkeyakinan bahwa pasangan mereka adalah soulmate mereka. Menurut saya aneh, karena beberapa dari pasangan mereka adalah orang yang cuek, masa bodoh, egp, jadi suami seadanya, malah saat dibutuhkan pun mereka nggak selalu ada. Jadi saya cuma bisa menyimpulkan bahwa selama status itu masih ada, maka itulah jodoh kita, yang sudah pasti belahan jiwa kita. Dan saya cuma bisa tersenyum.
Ada yang lebih aneh lagi saat dulu saya menginap di kost an ade saya. Nggak sengaja nguping sebenarnya ya karena ruang makannya jadi satu hehe.. "Kenapa sih, lo betah banget jalanin LDR?" "Gimana ya, kita tuh udah soulmate." Sambil makan saya jadi mikir, kok bisa ya? Padahal mereka jarang ketemu, jaminan apa yang bisa para perempuan ini terima sampai bisa nyebut lelakinya itu soulmate? Saking malesnya saya balik ke kamar ade sambil geleng-geleng kepala. Ade saya cuma bingung. Saya cuma bilang, rame di ruang makan pada ngomongin hal gak penting, ngebahas soulmate apalah itu, padahal LDR. Ade manggut-manggut,"Sarah ya? Yang rambutnya sebahu?". Selanjutnya ade saya malah kasih gosip sekilas kalo Sarah itu cowoknya udah punya anak dan istri. Hiyaaa.... makan tuh soulmate...hehehee...
Pernikahan yang benar-benar punya jiwa dan jadi belahan jiwa buat masing-masing pasangannya adalah pernikahan orangtua saya, menurut saya loh. Buat saya mama papa itu saling melengkapi, yang satu cerewet, bawel, galak, yang satu adem ayem santai kaya di pantai. Seegois apapun papa, mama tetep bersikap menghargai suaminya. Begitupun sebaliknya. Pernikahan buat mereka yang penting itu saling terbuka. Gak perlu maksa harus 1 hobi atau kesamaan, gak perlu 1 bintang, gak perlu 1 suku, yang penting saling menghargai pasangan. Oh mama..oh papa.. begitu ingin saya memeluk mereka :)
Nah, kalo buat saya, my soul n my soulmate adalah anak. Bukan gak menghargai atao gak cinta ama suami saya, tapi anak-anak punya area khusus di hati saya. Anak-anak adalah sumber kekuatan saya, seambruk apapun saya. Tanpa mereka bicara, mereka udah jadi pendengar yang baik buat jiwa saya. Tanpa mereka berusaha merangkul saya, mereka udah memeluk saya dengan keceriaannya. Tanpa mereka bisa menyeka airmata saya, mereka udah bisa menghapus linangannya dengan mencium saya. Itulah anak-anak. Lewat jiwa mereka, mereka lebih mengerti tentang kita. Terserah sih soulmate kalian siapa, buat saya, anak-anak itu soulmate jangka panjang di hidup saya :)